Posted on

Dunia Kampus yang (Sebenarnya) Menyenangkan

Satu hal yang membuat gw senang adalah ketika gw tahu bahwa gw telah memiliki usia yang cukup untuk menapaki kehidupan kampus dan menerima kenyataan bahwa gw diterima kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Gw membayangkan kehidupan di dunia kampus sebagai suatu bentuk kehidupan yang sangat menyenangkan. Ya, sangat menyenangkan.

Di dunia kampus, gw akan berinteraksi dengan orang – orang yang cerdas dan  berpengetahuan, membicarakan hal – hal yang ilmiah dan mendiskusikan teori – teori terbaru yang dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah. Di kampus juga gw bisa merancang proyek – proyek penelitian, pengembangan dan pengabdian kepada masyarakat dan hal – hal lainnya. Dan tentu saja, semuanya itu adalah sangat menyenangkan.

Gw berharap kampus akan menjadi rumah gw. Rumah yang akan menjaga dan melindungi gw dari kebodohan. Tempat yang akan mengajarkan gw ilmu tentang kebenaran dan kebaikan. Mengajarkan tentang kebenaran dalam teori dan kebaikan pada aplikasi. Di tempat ini, gw juga berharap agar bisa memahami makna kehidupan dan berada dalam keadaan terbaik ketika harus menghadap Sang Pencipta yang telah menciptakan ilmu itu sendiri. Dan bagi seorang penganut libertarian academic seperti gw, tentu saja hal itu adalah sangat menyenangkan.

Bagaikan berada di surga yang dihuni oleh bidadari – bidadari yang cantik, begitulah gw membayangkan kehidupan di dunia kampus. Ini sangatlah konyol. Jika memang begitulah keadaan di dunia kampus, kenapa negara ini masih saja seperti ini?? Ada sesuatu yang aneh di dunia kampus. Ada yang tidak beres di dunia kampus. Dan ketika gw memasuki dunia kampus yang menakjubkan itu, gw menemukan bahwa keanehan dan ketidakberesan itu adalah sebuah kenyataan.

Sepertinya, lebih menyenangkan membicarakan orang lain daripada mengetahui berita terbaru dari dunia ilmiah. Dan juga, lebih menyenangkan untuk tidak mengenal yang namanya “batas dalam pergaulan” daripada mendiskusikan suatu teori. Dan yang lebih memuakkan adalah mereka mengatasnamakan sosialisasi dan silaturahmi untuk membenarkan tindakan tolol seperti itu.

Gw jadi merasa begitu terasing di rumah sendiri. Atau mungkin sekarang gw sedang tidak berada di rumah sendiri?? Mungkin sindrom romantisisme telah merasuk ke dalam hati gw atau mungkin saja gw terlarut dalam sebuah dunia yang terplatonifikasi yang telah gw ciptakan sendiri. Dan sekali lagi gw merasa begitu tolol karena telah menjadi seorang pengkhayal yang berlebihan tapi begitu lugu dan polos. Dunia tidak pernah semenarik yang ingin kita lihat, kitalah yang harus membuatnya menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s