Posted on

Bayang – Bayang Platonik

Seorang teman pernah bertanya “Menurut lu, kehidupan itu apa??”, sebuah pertanyaan yang sering diajukan oleh para existentialists, tapi – menurut gw – belum terjawab sampai sekarang. Dia juga bertanya “Dimanakah kita sebenarnya hidup??” Tanpa menunggu jawaban dari gw, dia bergegas menjawab sendiri pertanyaan – pertanyaan tersebut dan berkata “Beberapa hari yang lalu, gw melihat sebuah thread di Kaskus. Seorang seniman menyusun sampah – sampah hingga membentuk suatu struktur ga karuan lalu menyinarinya. Dan bayangan yang terbentuk di dinding adalah suatu bentuk yang indah. Menurut gw, begitulah kehidupan kita. Dunia kita yang sebenarnya adalah tumpukan sampah – sampah, sedangkan dunia tempat kita hidup adalah sebuah realita semu di sebuah dinding yang merupakan bayangan dari dunia yang sesungguhnya. Sampah – sampah yang berantakan itu mendefinisikan bagaimana dunia kita sehingga dunia itu menjadi indah untuk kita tempati. Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana dunia yang sesungguhnya karena kita adalah bayangan.”

BayanganSumber

Sebuah pandangan dan juga kritikan yang menarik, tapi sungguh ironis. Kita adalah bayangan dan kita tidak tahu bagaimana dunia ini sesungguhnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengikuti bagaimana bentuk bayangan yang indah itu tanpa bisa membuat dunia itu sendiri (dunia yang sebenarnya) menjadi indah. Kita hidup dalam suatu realita Platonik yang indah, tapi sebenarnya hampa dan menjemukan dan mungkin memang begitulah dunia ini…

Aahh… Realita tidak sesederhana itu, walaupun kita tahu bahwa tidak baik juga memperumit keadaan, tapi begitulah kenyataannya. Mencoba mendefinisikan realita adalah salah satu proyek filsafat berskala besar yang telah dimulai sejak era pre – Socratic dan terus berlangsung hingga era postmodern. Entahlah…, hal – hal seperti itu ga akan pernah kelar,  ya… ga akan pernah kelar… dan lebih baik tetap seperti itu…

Dan bagi seseorang seperti gw,  yang menyukai Existentialism, tapi begitu terpengaruh oleh ide – ide Absurdism, tulisan di atas bisa disederhanakan menjadi kalimat berikut : The pursuit of intrinsic or extrinsic meaning in the universe is meaningless, but the pursuit itself may have a meaning

Credited to : Yudha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s