Posted on

Sebutir Gandum dari Tanah Tuhan

Pada suatu hari, beberapa orang bocah menemukan sebuah benda bundar seperti telur di dalam sebuah jurang. Di tengah-tengah benda itu terdapat sebuah celah sehingga membuatnya menyerupai sebutir gandum. Seseorang yang kebetulan lewat melihat benda yang ada di tangan anak-anak itu dan membelinya dari mereka seharga satu piatak (uang logam senilai lima kopek) lalu membawanya ke kota dan menjualnya kepada Tsar sebagai benda ajaib.

Tsar memanggil penasehatnya dan memerintahkan kepada mereka untuk menyelidiki benda aneh itu. Ia ingin mengetahui apakah benda aneh itu sebutir telur ataukah sebutir gandum. Para ahli menimbang-nimbang, tapi tidak dapat memecahkan persoalan itu. Oleh karena itu, benda aneh itu ditaruh di ambang jendela.

Pada suatu hari masuklah seekor burung dan mematuk benda itu, membuat lubang di dalamnya sehingga semua orang dapat melihat dengan jelas bahwa benda itu adalah sebutir gandum. Maka bergegaslah para penasehat Tsar berkumpul kembali dan mengatakan kepada Tsar bahwa benda bundar itu tak lain dan tak bukan adalah sebutir gandum.

Tsar merasa heran dan memerintahkan kepada para penasehatnya untuk memastikan dimana dan kapan gandum seperti itu ditanam. Kini para penasehat sibuk mencari-cari dalam buku-buku mereka, tetapi tidak dapat menemukan sesuatu. Mereka kembali kepada Tsar dan berkata, “Kami tidak dapat memecahkan kedua pertanyaan itu karena tak terdapat di dalam buku-buku kami. Tapi sudilah Baginda mengumpulkan keterangan diantara para petani, mungkin salah seorang kebetulan pernah mendengar dari orang tuanya dimana dan kapan butir gandum seperti itu pernah ditanam.”

Tsar memerintahkan untuk mencari seorang petani yang sudah sangat lanjut usia untuk dibawa menghadap. Tak lama kemudian datanglah seorang petani tua yang pucat dan sudah tak bergigi lagi, ia berjalan susah payah dengan bantuan dua buah tongkat.

Tsar memperlihatkan butir gandum itu kepadanya, siapa tahu serupa dengan biji gandum yang sebelumnya pernah dilihat oleh orang tua itu. Sebenarnya orang tua itu tak dapat melihat dengan jelas, tetapi ia tetap memeriksanya sambil meraba-raba dengan tangannya.

Tsar bertanya kepadanya, “Apakah kau tahu, Kakek yang budiman, dimanakah gandum itu ditanam? Apakah kau sendiri pernah menabur gandum yang serupa dengan itu di ladangmu? Atau mungkin pada zamanmu kau pernah membeli gandum yang serupa dengan itu?”

Orang tua itu tuli, ia hanya dapat mendengar dan mengerti dengan susah payah sehingga jawabannya sangat lambat. “Tidak,” akhirnya ia berkata, “hamba tidak pernah menabur gandum yang serupa ini di ladang hamba, atau menuai gandum serupa itu, atau membelinya. Bila kami membeli gandum, semua butir-butirnya halus dan mungil. Sebaiknya Taunku menanyakan pada ayah hamba, mungkin ia pernah mendengar dimana gandum yang serupa ini ditanam.”

Kemudian Tsar menyuruh orang tua itu untuk memanggil ayahnya dan memerintahkan untuk dibawa kepadanya. Ayah orang tua itu ditemukan dan dibawa menghadap. Ia masuk dengan langkah yang timpang dan dibantu sebatang tongkat.

Tsar menunjukkan butir gandum itu kepadanya. Orang tua itu masih dapat melihat dengan cukup jelas. Lalu Tsar bertanya kepadanya, “Apakah kau tahu, Kakek yang baik budi, dimana gandum serupa ini ditanam? Apakah kau pernah membeli gandum yang serupa ini dari suatu tempat?”

Orang tua itu agak sukar mendengar, tapi pendengarannya lebih baik dari pendengaran anaknya. “Tidak,” ujarnya, “tak pernah hamba menabur atau menuai gandum seperti ini, tidak, hamba juga tidak pernah membelinya karena di masa hamba uang belum mulai dipakai dalam perdagangan. Setiap orang bertani untuk menghasilkan rotinya sendiri, dan mengenai kebutuhan-kebutuhan lain, mereka saling membagi diantara mereka. Hamba tidak tahu dimana gandum yang serupa ini ditanam karena walaupun gandum kami lebih besar daripada gandum sekarang dan lebih banyak menghasilkan tepung, hamba tak pernah melihat gandum serupa ini sebelumnya. Namun, hamba pernah mendengar dari ayah hamba bahwa di zamannya gandum yang dituainya lebih baik daripada di zaman hamba, lebih besar dan menghasilkan tepung lebih banyak. Sebaiknya tuanku memanggilnya dan menanyakan kepadanya.”

Kemudian Tsar menyuruh memanggil ayah dari orang tua itu untuk menghadap. Ia masuk dengan tanpa memakai tongkat, malah dapat berjalan dengan mudah, sedangkan matanya masih tajam dan dapat berbicara dengan jelas. Tsar menunjukkan biji gandum itu kepadanya dan orang tua itu memandangnya dengan seksama.

“Ah!” katanya, “sudah lama sekali sejak melihat gandum zaman dulu seperti gandum ini!” Kemudian ia menggigit sedikit dari biji itu, mencicipi sebagian daripadanya. “Sama!” serunya.

“Katakanlah kepadaku, Kakek,” kata Tsar, “dimana dan kapan gandum serupa ini ditanam? Apakah kau pernah menabur gandum serupa ini di ladangmu? Apakah kau pernah membeli gandum yang serupa ini dari orang lain?”

Lalu orang tua itu menjawab, “Pada masa kami, gandum seperti ini dituai dimana-mana. Hamba hidup dari gandum seperti ini, gandum seperti inilah yang hamba tabur, kemudian hamba tuai dan tumbuk.”

Tsar bertanya lagi kepadanya, “Katakanlah kepadaku, Kakek yang baik budi, apakah pernah menjadi kebiasaanmu selalu menaburnya di ladangmu sendiri?”

Orang tua itu tersenyum, “Di masa hamba”, ia berkata, “tak ada orang yang pernah memikirkan untuk melakukan dosa besar seperti membeli atau menjual gandum, kami tak tahu apa-apa tentang uang. Setiap orang mempunyai gandum sebanyak yang ia kehendaki. Ladang hamba adalah tanah Tuhan. Dimana hamba berladang, di situlah ladang hamba. Tanah itu bebas dan tak ada orang yang menyebutnya sebagai miliknya. Setiap orang mendapat buah dari hasil kerjanya sendiri.”

“Katakanlah kepadaku dua hal lain,” kata Tsar, “pertama, mengapa gandum serupa itu pernah tumbuh, tapi tidak lagi tumbuh sekarang. Kedua, mengapa cucumu berjalan dengan dua tongkat dan putramu dengan satu tongkat sedangkan kau sendiri berjalan dengan mudah tanpa tongkat sama sekali. Lagi pula pandanganmu masih tajam, gigimu masih kuat, dan bicaramu masih jelas.”

Orang tua itu menjawab, “Alasan untuk kedua hal itu ialah kini orang berhenti hidup dengan buah pekerjaannya saja dan mulai menginginkan milik sesama mereka. Di masa kami dulu, hidup tidak seperti itu. Kami hidup menurut firman Tuhan. Kami adalah majikan atas diri kami sendiri dan tidak menghendaki apapun yang dimiliki orang lain!”

Dari buku Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu karangan Leo Tolstoy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s