Posted on

Tentang Diri”mu”

Satu di antara dua hal yang aku yakini sekarang tentang diriku; aku yang normal telah menjadi manusia gila atau aku yang gila telah menjadi manusia normal. Aku benar-benar tidak habis pikir tentang apa jawaban atas pertanyaan”mu”; bagaimana diri”ku” menurut dirimu? Sebuah pertanyaan yang sangat sulit, seolah-olah hipotesis Riemann tidak ada apa-apanya, seolah-olah filsafat berumur 3000 tahun hanyalah gurauan belaka, seolah-olah kemajuan pesat masyarakat post-industrialis hanyalah menciptakan mesin penghasil sampah tak berguna. Terpikir olehku untuk menggunakan metode ilmiah yang canggih untuk menemukan jawaban atas pertanyaan”mu” itu, tapi; haruskah kutempatkan diri”mu” dalam suatu laboratorium sosial untuk menentukan sifat-sifat”mu” seperti Watson dengan “Rat Psychology”nya, atau haruskah kubombardir diri”mu” dengan hadron-hadron bermassa besar yang melesat dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya agar aku tahu ada quark lain selain up, down, top, bottom, charm, dan strange yang menghiasi raga”mu”, atau haruskah kubedah seluruh badan”mu”, termasuk otak dan hati”mu” agar aku tahu tentang bagaimana diri”mu”? Sayangnya aku tidak memiliki kapasitas untuk melakukan semua itu.

“Kamu” tahu? Aku terus berusaha mencari jawaban atas pertanyaan”mu” itu. Sebagai seorang manusia yang hidup di alam postmodern, aku pun mempertanyakan keabsahan dan legitimasi metode ilmiah yang merupakan salah satu karya agung para pendahulu kita; para modernis. Bukan karena aku seorang pengagum Lyotard sehingga aku jadi begitu kritis mempertanyakan legitimasi dari narasi-narasi besar dan bukan juga karena aku seorang pengagum Derrida sehingga aku jadi begitu bersemangat mendekonstruksi semua logosentrisme yang bertebaran dalam realita wacana, tapi karena sulitnya menjawab pertanyaan”mu” yang – sungguh, pertanyaan”mu” itu telah menghiasi alam pikiran manusia sejak awal mulanya peradaban kita dan sampai sekarang belum terjawab – meskipun telah kugunakan peralatan filosofis yang lebih canggih daripada apa yang telah mereka kemukakan, tidak juga kutemukan jawabannya.

Kubaca dan kupahami semua buku yang ada di rak bukuku yang berdebu. Tidak ada satu pun definisi, aksioma, teorema, lemma, konjektur, hipotesis, proposisi, dan rumus tentang”mu” dalam buku matematikaku, dalam buku topologi, analisis real, teori bilangan, bahkan aljabar abstrak. Tidak ada satu pun model dan peristiwa kosmos yang menjelaskan tentang”mu” dalam buku astrofisikaku. Dan tidak juga ada penjelasan tentang”mu” dalam buku-buku favoritku tentang posmodern dan contemporary cultural studies. Tidak dalam buku Dunia yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan dan buku Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna karangan Yasraf Amir Piliang. Tidak satu pun filsuf Prancis kontemporer yang memberi penjelasan tentang”mu” sebagaimana ditulis oleh Prof. K. Berteens dalam bukunya Filsafat Barat Kontemporer; Prancis. Tidak dalam buku-bukuku yang lain. Tidak dalam Simulation karangan Baudrillard, tidak dalam Kondisi Posmodern karangan Lyotard, tidak dalam Anti-Oedipus karangan Deleuze dan Guattari, serta tidak juga dalam buku The Last Self-Help Book karangan Walker Percy dan buku-buku usang lainnya yang sudah sedikit terlupa.

Setelah tahu begitu adanya, kucoba menjawab pertanyaan”mu” dengan caraku sendiri. “Kamu itu x”, begitu batinku. “Kamu itu baik, jujur, pengertian, sarkastis, narsis, dan lain-lain.” begitu yang kuketik. Tapi, benarkah “kamu” sepeti itu? Pertama; jika “kamu” baik, maka “kamu” tidak akan pernah tidak-baik. Apakah “kamu” selalu baik? Apakah “kamu” sesempurna itu? Tidak pernahkah “kamu” berbuat isenk kepada teman”mu” yang “seperti orang tua” dan yang “tomboy” itu? Apakah “kamu” selalu jujur? Apakah “kamu” sesempurna itu? Tidak pernahkah “kamu” berbohong? Apakah “kamu” selalu pengertian? Apakah “kamu” sesempurna itu? Tidak pernahkah “kamu” bersikap keras kepala kepada orang lain? Apakah “kamu” selalu sarkastis? Tidak pernahkah “kamu” berkata lemah lembut kepada orang tua”mu”? Apakah “kamu” selalu narsis? Tidak pernahkah “kamu” bersikap rendah hati kepada orang yang “kamu” hormati? Kedua; jika “kamu” itu baik, jujur, pengertian, sarkastis, narsis, dan lain-lain, apakah kamu akan selalu seperti itu? Apakah setelah dua tahun kita bertemu, “kamu” akan tetap seperti itu dan tidak pernah serta tidak akan pernah berubah sedikit pun? Apakah semua situasi di sekeliling”mu” tidak pernah serta tidak akan pernah berubah sedikit pun sehingga “kamu” tetap dan akan tetap seperti itu?

Aku semakin pusing. Adalah lebih baik rasanya bekerja sampai berkeringat darah, sampai otot-ototku lumpuh, sampai tulang-tulangku hancur, sampai otakku meleleh, sampai hatiku membatu, daripada tersiksa oleh pertanyaan”mu”. Aahh… Sekarang aku menjadi terlalu berlebihan. Aku tidak mau seperti itu. Kucoba mengambil jalan lain. Tapi aku bingung. Tidak ada lagi jalan tersisa. Aku telah tiba di jalan buntu. Jika begitu, aku harus membuat jalan baru; arah mana yang harus kutempuh? Terlintas di benakku tentang rasio dialektis Hegelian, tentang pertanyaan eksistensial-ontologis Heidegger, tentang permasalahan filsafat dan bahasa Wittgenstein. Kudapati bahwa diri”mu” tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, oleh simbol-simbol, dan oleh makna-makna. Dan seketika, aku tersentak… Diri”mu” tidak terdeskripsikan oleh kata-kata, simbol-simbol, dan makna-makna. Jika demikian adanya, maka telah terjadi ketimpangan dalam semiotika struktural Sausurean. “Kamu” berwujud di dunia nyata, “kamu” adalah sebuah penanda dalam dunia nyata, tapi kamu tidak terdeskripsikan dalam suatu konsep, kamu tidak memiliki petanda. Oke, sepertinya sekarang aku telah benar-benar gila. Aku sudah menjadi sinting telak. Haruskah kubuat kata-kata baru untuk mendeskripsikan diri”mu” yang serba rumit itu? Haruskah kujabarkan sebuah konsep dan definisi baru agar diri”mu” yang serba paradoks itu bisa dipahami melalui logika dan bahasa? “Kamu” tahu? Aku tersesat di tengah rimba kata-kata.

Aku lebih senang mengutip Sartre; pribadi adalah proyek seumur hidup dan aku tidak berhenti menciptakan diri. Maka dari sudut pandangku, adalah sebuah kekonyolan untuk menyatakan bahwa “aku ingin menjadi diriku sendiri.” Seperti apakah “diriku sendiri” itu? Seperti pada paragraf keempat baris kedua pada note ini? Hhmmm… Tidak ada yang tetap di dunia ini, segala sesuatunya berubah, kecuali perubahan itu sendiri. “Kamu” juga akan berubah dan senantiasa akan berubah. Masalahnya adalah apakah “kamu” akan berubah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya?

Setelah kubaca lagi, ternyata tulisan ini sangat lebay (tapi udah terlanjur dipublikasikan dan aku tidak mau mengeditnya) dan mungkin “kamu” akan bertanya, “kenapa jawabanmu selalu saja tidak menjawab pertanyaan?” Mungkin karena aku seorang badut, seorang tukang seringai sehingga apa yang kukatakan hanyalah kritik-kritik ga jelas dan ga bermakna yang sebaiknya tidak ditanggapi dan dimasukkan ke hati. Semua terserahmu…

Kepada Nona W.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s