Posted on

Pengemis

Zaman tidak lagi jujur kepada kita yang masih disini
Kenyataan dijungkirbalikkan hingga kacaulah semua yang di dalamnya
Semua dikaburkan, begitu juga pengetahuan yang kita miliki
Apa yang kita usahakan hanyalah menumpuk sampah dan dosa
Meminta dan terus meminta tanpa bersyukur dan merasa peduli

Dan kepadamu yang meminta-minta dari mewahnya kursi jabatan
Yang tiada tahu tentang rasa bersalah dan tak punya malu
Memohon dan menunduk dalam kenyamanan demi meminta sedikit tunjangan
Menyuap dan menjilati tangan-tangan yang dikotori kepentingan
Kau ambil semua hakmu secara serakah dan tanpa kendali nafsu
Dan kau abaikan tanggung jawabmu yang hanya secuil karena godaan

Lalu bagaimana dengan mereka yang bertahan hidup di jalanan?
Bagaimana dengan mereka yang hanya bisa hidup di bawah langit berbintang?
Bagaimana dengan mereka yang terlelap berselimutkan dinginnya malam?
Bagaimana dengan mereka yang hidup hanya dengan do’a dan harapan?
Bagaimana dengan mereka yang tak berdosa, yang gembira dan senang?
Kau abaikan…

Terus saja kau meminta dan meminta lagi
Untuk mengisi perutmu yang dari hari ke hari semakin buncit
Dan untuk rumah mewahmu yang semakin lapang dan tak lagi sempit
Tidak ada satu telur cicakpun yang menghiasi sudut kamarmu
Tidak ada genangan air kencing tikus yang membasahi rumahmu
Dan semuanya menghiasi hari-harimu dengan kebahagian semu

Bagaimana rasanya darah dan daging saudaramu yang kau khianati?
Terasa lezat, renyah, dan mengenyangkan di lambungmu yang seperti karet?
Bagaimana rasanya mengunyah penderitaan orang yang hampir mati?
Lalu kau tambahkan saus dan garam dusta sehingga makananmu menjadi nikmat
Dan kau pun meminum air tangisan dari limbah-limbah kebahagian yang sedih
Tak ada bedanya makanan mewah , sampah dan kotoran pada nafsumu

Kadang aku merasa jengkel dengan tingkah tak beradap yang kau tunjukkan
Melolong seperti anjing mengharap iba dalam rintihan dan tangisan
Berbicara melalui topeng-topeng kemunafikan yang selalu kau kenakan
Bahkan bangkai ikan yang melayang-layang berdarah di lautan
Jauh lebih baik daripada bangkaimu yang dihiasi jernihnya pemikiran
Jauh lebih baik daripada bangkaimu yang dipenuhi oleh kotoran
Tapi sayangnya tidak banyak hal yang bisa kulakukan

Sungguh, tak ada gunanya aku menyesali masa lalu yang telah kau lewatkan
Tak ada gunanya aku menyesali masa depan yang akan segera kau wariskan
Meskipun segala yang kau perbuat hanyalah menambah kerusakan
Jika pada akhirnya nanti generasi pengemis sepertimu akan bangkit kembali
Tentunya akan tetap ada mereka yang berperang dengan gagah berani
Mencoba membungkam mulutmu yang sudah membusuk ke dalam teralis besi

Aku percaya semua perjuangan tidak sia-sia
Meskipun waktu tak mengizinkan ku bahagia
Dan aku berharap semua mata terbuka
Menyadarkan kita akan segala dosa
Menuju jalan yang telah ditunjukkanNya
Dalam gelap yang selalu diterangi cahaya
Tercerahkan melalui petunjuk dan hikmahNya
Melangkah menjadi manusia seutuhnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s