Posted on

Rasio Dialektis Hegelian Dalam Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali gw mendengar orang-orang, bahkan gw sendiri, mengeluhkan apa yang telah diperoleh. Ucapan-ucapan seperti “Kenapa amanah ini terasa begitu berat?”, “Gw udah muak dengan semua ini!“, atau “Tuhan, kenapa kesengsaraan ini Kau limpahkan kepadaku?” adalah kalimat-kalimat yang selalu terdengar dalam keseharian dan terasa begitu nikmat untuk diucapkan ketika semua yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Yang lebih sadis lagi adalah seolah kejadian-kejadian yang memaksa terucapnya kalimat-kalimat tersebut selalu terulang dalam kehidupan tanpa tahu kapan siklus menyebalkan itu akan berhenti. Ada apa sebenarnya dengan kehidupan ini? Tidak bisakah kita menghilangkan yang namanya “penderitaan“?. Tidak bisakah kebahagiaan selalu ada dan menghiasi hari-hari kita?

Gw mencoba merenungkannya; kenapa harus seperti itu? Salah satu jawaban, dari sekian banyak jawaban, adalah dengan cara memandang kehidupan menggunakan rasio dialektis Hegelian. Konsep ini dikemukakan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel, seorang filsuf idealis Jerman. Salah satu konsep dasar dari rasio dialektis Hegelian adalah “segala sesuatu terbuat dari konsep yang berlawanan dengan konsep yang bersangkutan“. Rumusan terkenal dari kata-kata tersebut adalah; tesis-antitesis-sintesis, yang secara abstrak menyatakan bahwa sesuatu (tesis) dan bukan-sesuatu (antiesis) saling menyatakan sehingga menjadi sesuatu. Pada konsep tersebut, sintesis diperoleh melalui fase negatif, yaitu menjadi (becoming) (yang gw jabarkan disini hanyalah salah satu konsep dasarnya saja dan untuk tujuan praktis)[1][2].

Kembali ke kehidupan. Bisakah semua penderitaan itu hilang? Jawabannya adalah bisa. Dan akibatnya adalah kita tidak akan bisa merasakan lawan dari penderitaan tersebut, katakanlah; kebahagiaan. Hal ini terjadi karena kebahagiaan itu bisa kita rasakan karena kita merasakan yang namanya penderitaan. Bayangkan kalau seandainya kita bahagia terus. Bisakah kita menyatakan bahwa kita bahagia? Kebahagiaan yang seperti apa yang kita rasakan tanpa pernah tahu tentang rasanya penderitaan?

Hal itupun juga berlaku ketika kita menginginkan diri kita untuk menjadi lebih baik. Misalnya ketika kita ingin menjadi seorang yang sabar, kita tidak bisa begitu saja menjadi sabar. Kita harus bisa mengatasi tidak-sabar (marah, jengkel, etc) sehingga akhirnya menjadi seorang penyabar.

==================

[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Dialectic#Hegelian_dialectic

[2] Madilog oleh Tan Malaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s