Posted on

About “me blog”

Sebelumnya, terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir dan membuang waktunya yang berharga hanya untuk membaca tulisan-tulisan ga jelas di blog ini dan memberikan tanggapannya, terutama tanggapan yang berupa kritik dan saran. Beberapa tanggapan diantaranya cukup menggangu; “Bau eksistensialismenya begitu menyengat.” “ Realita multiinterpretasi, simulakrum, penanda dan petanda… postmo banget.” Sedangkan yang lain memberikan pertanyaan; “Kenapa blog yang lama dihapus?” “Kenapa di blog yang sekarang ga ada kategori Letters to Jack & Helena dan kategori mengenai pembahasan Paradoks Russell dalam kehidupan sehari-hari?” “Kenapa tema umumnya tentang eksistensialisme dan postmo?” “Apa maksud dari gambar kota dalam sangkar burung?” Dan ternyata ga ada yang menanyakan tentang pembahasan teorema-teorema pada buku klasik yang sangat terkenal An Introduction To The Theory Of Numbers karangan G.H. Hardy dan E. M. Wright pada blog yang lama.

Beberapa diantara teman-teman tidak cukup beruntung karena bisa bertemu dan berdiskusi dengan gw untuk membahas blog yang lama dan isi blog ini. Sementara yang lain, karena tidak bisa mengubah hukum-hukum fisika, terpaksa menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena itu, pada entry ini, gw akan membahas sedikit tentang…

=========================

Mengenai blog yang lama

Gw ga begitu senang ketika menulis untuk blog yang lama, terutama untuk kategori Letters to Jack & Helena yang gw ambil dari diary gw. Terlalu banyak hal yang bersifat pribadi sehingga akhirnya banyak yang harus disensor. Sedangkan untuk tulisan yang lain, entahlah…

=========================

Mengenai eksistensialisme, alienasi, dan postmo

Dari dulu, gw selalu memikirkan tentang keberadaan kita – manusia – di muka bumi. Apa yang gw dapat adalah agama telah menjelaskannya secara eksplisit dan juga implisit. Hal yang implisit itulah yang ingin gw cari jawaban dan penjelasannya. Gw ga ingin hanya sekedar dilahirkan-sekolah-kerja beserta mengikuti segala rutinitasnya-meninggal dunia. Hidup lebih dari sekedar itu. Ketika akhirnya menginjakkan kaki di tanah Parahyangan, gw mendapatkan sesuatu yang benar-benar aneh, sangat berbeda dari apa yang gw pikirkan. Dan ternyata, yang aneh itulah yang terjadi di dunia ini pada umumnya.

Industri nasehat merajalela, nasehat agar orang-orang meninggalkan siapa dirinya dan menganjurkan untuk memakai topeng. Toko buku dipenuhi oleh buku self-help, self-improvement, etc. Buku-buku best seller adalah buku-buku psikologi populer yang memberikan tips-tips yang terkesan mudah, tapi mereduksi banyak hal, termasuk kemanusiaan itu sendiri. Kita hidup di sebuah zaman yang gila, lebih gila daripada biasanya, karena kendatipun ada kemajuan besar-besaran dalam sains dan teknologi, kita tidak memiliki bayangan ide tentang siapa kita dan apa yang kita perbuat.[1] Kita tidak berusaha menjawabnya dengan kemampuan yang kita punya. Kita tidak berusaha menjawabnya dengan menggali makna pada pengalaman-pengalaman yang sudah kita lewatkan atau yang sedang menunggu kita. Kita ingin dimotivasi oleh orang lain, kita harus dimotivasi oleh orang lain.

Kita dikelilingi oleh hutan rimba komoditi dan tontonan, dengan segala muatan makna status, simbol, dan prestisenya, dengan perubahan dan pergantiaannya yang semakin cepat. Bahkan di waktu istirahat pun, kita masih diresahkan oleh model pakaian yang sudah ketinggalan jaman, acara sepak bola di televisi, serta bujuk rayu iklan kebugaran tubuh. Iklim di dalam masyarakat kita tidak lagi religius, tapi terapis. Kita tidak begitu tertarik akan keselamatan diri lewat perenungan atau ibadah, melainkan dahaga akan ilusi yang bersifat sementara; haus akan kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keamanan psikis lewat terapi. Kita hanyut dalam berbagai bentuk terapi; yoga, latihan spiritual kilat, astrologi populer, konser musik rock, sepak bola bukan lagi sekedar untuk memenuhi obsesinya dan melepaskan diri dari kerutinan kerja, akan tetapi menjadikannya sebagai tempat hidup yang sebenarnya. “Aku adalah orang rock!” “Aku adalah orang bola!”[2]

Hal ini selalu mengingatkan gw pada pertanyaan eksistensial-ontologis Martin Heidegger; “apa makna eksistensi palu bagi seorang tukang? Dapatkah seseorang mengklaim bahwa dirinya adalah tukang jika dia tidak mempunyai palu?” Lalu bagaimana dengan kita?

=========================

Jadi, pada dasarnya, isi blog ini adalah pemikiran gw tentang keberadaan kita yang teralienasi, teralienasi oleh apa yang kita ciptakan sendiri, oleh apa yang kita hasilkan, oleh apa yang kita butuhkan, dan mungkin oleh realita itu sendiri.  Bagi teman-teman yang membaca, tidak harus terpengaruh oleh isi blog ini. Isi blog ini adalah tulisan dari apa yang gw lihat dan apa yang gw pikirkan.

=========================

[1] Walker Percy – The Last Self-Help Book: Sebuah Perenungan Filsafat dan Semiotika Diri dengan Gaya Humor Satir

[2] Yasraf Amir Piliang – Dunia yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s