Posted on

Introspeksi

Kamarmu berantakan. Teratur dalam kekacauan. Disitu kau duduk manis. Disitu juga hatimu menangis. Tiada rasa dendam, tiada rasa benci. Hanya ditemani malam dan hangat berselimutkan sepi. Kau merasa begitu sendiri. Kau merasa semua pergi. Kenyataan ini seolah mimpi. Semua seolah ilusi. Kau tetap sendiri. Menutup pintu hati, meratapi yang tak kembali. Dan kau pun mengabaikan kewajibanmu. Membiarkan semua tak tentu. Menunggu bersama waktu bagi semua yang akan berlalu.

Kau perhatikan dunia. Kau melihat realita. Dan kau pun berkata “Betapa senangnya mereka, betapa bahagianya mereka.” Itulah yang tampak di matamu. Itulah yang dirasakan hatimu. Tapi kau malah meratapi hidupmu. Dengan berbisik pelan, suaramu terdengar lirih “Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Kenapa aku yang selalu menderita?” Sungguh, tak ada lagi ruang kosong di gelasmu. Semua dipenuhi oleh sampah-sampah kesenangan. Semua terisi oleh limbah-limbah kebahagian. Matamu hanya mau melihat apa yang ingin dilihatnya. Telingamu hanya mau mendengar apa yang ingin didengarnya. Hatimu hanya mau merasa apa yang ingin dirasakannya.

Kau hanya melihat satu sisi dunia, tapi kau melupakan sisi lainnya. Jauh di sana, mereka hanya minum. Perut mereka kenyang oleh air, bukan oleh makanan. Di seberangnya, mereka takut akan makanan. Mereka memuntahkannya hanya agar timbangan badan mereka tidak rusak karena kelebihan beban. Di sisi lain, mereka dihantui oleh beragam penyakit menular dan bahaya kelaparan. Dan yang lainnya, terjerat dalam ekstasi konsumerisme, tercabut dari akar eksistensial mereka, lupa akan siapa diri mereka.

Kuperhatikan burung-burung. Mereka terbang bebas di langit biru. Mereka menjelajah ke delapan penjuru. Tapi, tidak selamanya mereka terbang, tidak selamanya mereka melayang. Jika lelah, mereka akan mengistirahatkan diri, turun kembali ke bumi. Seandainya tidak ada daratan, tentu mereka menyesal karena mempunyai sayap. Selalu terbang, tiada tempat beristirahat.

Aku juga begitu. Kau juga begitu. Hidup ini mungkin saja membuatmu lelah. Tapi kau tidak harus terlarut di dalamnya. Injakkan kembali kakimu di bumi. Istirahatkan sayap lelahmu di sini. Beri dirimu waktu. Renungkanlah. Ada yang telah pergi, tapi ada yang tetap di sini. Dia selalu memahami kegalauan hatimu. Dia selalu mendengar lantunan do’amu. Dan Dia selalu memberi jawab atas mimpi-mimpimu. Kau juga masih punya keluarga untuk berbagi. Sahabatmu juga masih di sini untuk berarti. Semua patut disyukuri.

============

Kepada …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s