Posted on

Kebetulan

Tidak ada yang namanya kebetulan, semua terjadi atas seizinNya.

Kalimat di atas mungkin sudah cukup bagi kita untuk menjelaskan betapa Maha Kuasanya Tuhan. Jika tidak begitu, tentu Dia tidak pantas menyandang gelar “Tuhan”. Gw juga ga bermasalah dengan kalimat di atas. Hanya saja, pemahaman dan interpretasi atas kalimat tersebut sedikit mengganggu pikiran gw, terutama berkaitan dengan kata “kebetulan”. Hal ini terutama terjadi di “lingkungan” gw, tempat berkumpul dan berdiskusinya para [calon] saintis.

Sering kali kata “kebetulan” pada kalimat di atas disubjektivikasi sehingga mengakibatkan seseorang yang menyatakan kalimat tersebut secara tidak langsung mengklaim dirinya tahu tentang apa yang dilakukan Tuhan, atau lebih ekstrimnya; menyatakan dirinya secara tidak langsung sebagai Tuhan. Maksudnya, bisakah kita menyatakan bahwa kebetulan itu benar-benar tidak ada? Jika memang demikian, maka pemahaman kita akan apa yang terjadi benar-benar telah melampaui apa yang sebenarnya kita pahami. Hal ini tentunya berakibat bahwa bahkan Tuhan sekalipun tidak mempunyai kekuasaan atas penciptaan peristiwa “kebetulan bagi pemahaman kita”. Jadi, dalam pemahaman kita sebagai manusia, “kebetulan” itu adalah benar adanya. Kita benar-benar tidak bisa menebak, kita benar-benar tidak tahu, kita benar-benar merasa surprise ketika “peristiwa itu” terjadi dan karena itulah makanya peristiwa itu kita sebut “kebetulan”. Dan sebaliknya [sebagaimana yang kita semua yakini], tidak ada kata kebetulan dalam “kamus” Tuhan. Semuanya benar-benar telah ada dalam rencanaNya, semuanya ada dalam kekuasaanNya.

Lagipula, kalau kita mencoba menghilangkan konsep “kebetulan” dalam memahami realita dan kehidupan kita, tentunya dunia yang bersifat seperti itu (deterministik) jadi kurang begitu menarik untuk ditinggali. Bayangkan jika realita dan kehidupan kita sendiri tereduksi menjadi sistem deterministik; semua terpahamkan melalui logika implikasi: jika p maka q, penyebab x mengakibatkan y,… hal ini sama saja seperti menjalani apa yang sudah kita ketahui. Di mana menariknya hal seperti itu? Dan hal ini bukan berarti bahwa untuk menjalani hidup, kita tidak memerlukan yang namanya rencana, menghilangkan yang namanya harapan serta membiarkan semuanya mengalir.

Setidaknya, kita membuat rencana untuk mendapatkan yang terbaik yang kita inginkan. Dan harapan akan selalu membuat kita percaya bahwa rencana itu bisa diwujudkan. Serta hal itu akan semakin menarik jika kebetulan menyinggahi keberadaan kita.

==================

Mungkin pandangan kita tidak akan pernah sama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s