Posted on

Tentang Patah Hati

Satu hal tidak begitu kusukai; mencampuri urusanmu di mana seharusnya aku tidak ikut campur: mengenai ke-cinta-anmu. Entah itu baik atau tidak. Entah itu benar atau tidak. Hanya saja, aku tidak bisa dan aku tidak mau membiarkanmu seperti itu terus; merasa tidak bahagia dan memaksa terlihat bahagia ketika melihat orang yang kau cintai berbahagia bersama orang yang dicintainya, sedangkan orang yang dicintainya itu bukanlah dirimu. Kutelusuri beragam literatur, kujamah artefak-artefak kebudayaan, dan kurangkum kutipan-kutipan; untuk sedikit menghangatkan hatimu melalui entry pada blog-ku ini.

Sejenak, tidak kuhiraukan kegelisahan Wittgenstein; bahwa tidak ada yang lebih asing daripada “diri”. Walaupun begitu kabur dan buram potret yang terlihat, kurasakan kehampaan pada setiap kata-katamu, di setiap tulisan-tulisanmu, dan di setiap ekspresimu. Kemana dirimu yang selalu bergairah? Kemana cahayamu yang selalu memancar cerah? Seolah membenarkan pernyataan dari seorang matematikawan-bodoh-tak-terkenal: “Diperhitungan cinta, satu tambah satu sama dengan segalanya dan dua kurang satu sama dengan kehampaan”.

Mungkin memang mengecewakan rasanya ketika kenyataan tidak mewujud seindah di angan dan menyakitkan rasanya ketika cinta berujung di kehampaan. Dan mungkin memang begitulah kenyataannya bahwa adalah sesuatu yang sukar untuk sampai pada cinta sejati; seperti pada cerita-cerita epik atau pun pada cerita-cerita roman, yang bahkan tidak semua orang bisa memperoleh karunia yang agung itu. Kenyataan ini bukan berarti memperteguh argumen tentang betapa menyakitkan dan menyebalkannya cinta; meskipun orang berkata cinta itu menyakitkan, meskipun orang berpikir cinta itu menyebalkan, tapi tetap saja ada cinta di dunia ini karena itulah gambaran dasar manusia: untuk mencintai dan dicintai.

Dari hal tersebut, maka mencintai dan dicintai adalah salah satu penentu kebahagian yang kau miliki. Bukan ‘cinta’ namanya jika kau tidak bahagia dengan cinta itu karena kebahagiaan adalah keharuman yang tidak boleh kau semburkan kepada orang lain tanpa kau sendiri mendapat beberapa tetesan daripadanya. Kau hanya sedikit keliru dengan perasaaanmu dan dengan kenyataan yang kau hadapi. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

Oleh karena itu, mencintai, mengetahui bahwa kau akan mendapatkan sakit, adalah seperti hidup dan mengetahui kau akan mati. Namun, tidak mencintai supaya kau tidak mendapatkan sakit, sama saja seperti melakukan bunuh diri. Adalah lebih baik untuk mengetahui cinta dalam hidup yang singkat, daripada umur panjang tanpa mengetahui cinta. Seperti apapun keadaanmu sekarang, cinta akan selalu datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.

Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu. Jika rasa cinta terbalas, maka bersyukurlah karena Allah telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya. Namun, jika rasa cinta itu tak terbalas, maka bersukyurlah karena kita akan dipilihkan Allah yang lebih baik.

==============

Kepada Mahia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s