Posted on

Sisi-Sisi Dunia

Daun-daun berguguran dengan riangnya. Mereka menari, mengiringi hembusan angin, berdansa bersama debu berterbangan tanpa peduli pada hidup yang fana. Burung flamingo di dunia lama berkicau menghiasi langit biru di hati. Keindahan yang tak terungkap oleh bahasa, bergairah liar di alam imaji. Sebuah khayalan aneh terlintas lalu tanpa meninggalkan tanda. Realita berlalu mengiringi rona sang senja yang terjalin dalam kasih tulus beriring doa. Kurentang harap dalam kesunyian diri demi melepas belenggu terajut di dalam hati. Bagi seutas cerita tentang segenggam cinta yang bersemi di hati dalam kasih yang abadi.

Ada orang-orang yang menyiakan hidupnya dengan tiada berpaling kepada cinta. Ada orang-orang yang hidup dalam kecintaan dan kerinduan akan pertemuan denganNya. Ketika sang setan menggoda dan sang malaikat tertawa, perasaan mengaduk hidupku; kau begitu cantik dan mempesona. Pahala dan dosa mengalir menggenangi titian takdir hidupku. Tiada habis kata tertulis hingga tinta mengering. Tiada usai kata terucap hingga suara tak bergema. Tapi cinta ini, kerinduan ini, tak menggenapi arti keberadaanmu. Apa-apa menenggelam dimana-mana.

Dunia tidak lagi menampak wujud-wujud mesranya. Dongeng pengantar tidur terbawa oleh angan-angan ke dunia mimpi. Simfoni-simfoni alam memperdengarkan alunan-alunan anarki yang merusak menggema. Layaknya puisi penyair-penyair sinis, kerinduan ini terdampar di kekecewaan, kecintaan ini terhempas keputus-asaan. Dimanakah dirimu sekarang berada, manisku?

Rinduku, di tapal batas realita kuberdiri, menatap sang takdir melukis wajah dunia. Waktu kita tidak sedikit, tapi kita tidak menikmatinya bersama. Semakin jauh ia berlalu mengukir jejak di kaki langit senja. Tidakkah kau melihatnya? Rindu tak berujung ini tiada pernah bertemu dalam untaian kisah kita. Cintaku, bagai sungai yang merindu samudra, meniada di ujung jalannya. Begitu rapuhnya, kedirianku terkoyak dalam dahaga kerinduan. Perjalanan ke lubuk hatimu, memancarkan indah pesona dunia, utuh dan berbentuk. Tapi diriku semakin asing, semakin memudar, semakin menjauh. Hingga akhirnya, kegilaan ini mengklaim eksistensinya atas diriku.

Kepada D

===================

P.S. :

Sisi-Sisi Dunia : Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, Bagian 4
Menjelang Desember 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s