Posted on

Ketika Oedipus Bernyanyi

Aku digendongnya. Aku berada dalam genggamannya. Aku terbalut kecintaannya. Aku terbungkus kasih sayangnya. Suaranya pelan menggema di sela telingaku. Belaiannya lembut menyapu permukaan kulitku. Di balik senyum senangnya, berirama nyanyian merdu. Di dalam dekapan lengannya, tercium aroma rindu. Di satu waktu, kukencingi pakaiannya yang harum sehingga menjadi bau. Kadang kumuntahkan makanan yang kucerna ke telapak tangannya yang bersih sehingga menjadi kotor. Tapi dia malah senang, dia mencium pipiku dengan tak sabaran. Dia mengerti bahasaku. Dia adalah segalanya bagiku. Dia adalah semuanya bagiku. Ada-ku adalah ada-bersama-dirinya.

Tapi, aku tidak sendiri bersamanya; ada orang lain. Ada yang lain bersamanya. Kadang dia meninggalkan aku untuk bersamanya. Kadang dia berpaling dariku untuk orang lain itu. Kebersamaanku dengannya retak. Keutuhanku bersamanya terbelah. Dia adalah apa-apa bagiku, tapi aku bukanlah apa-apa baginya. Diriku utuh bersamanya, tapi dirinya terbagi bersama orang lain. Aku ingin memilikinya seutuhnya. Aku ingin menjadi segala yang-lain bagi dirinya. Tapi eksistensiku tidak menggenapinya. Air mataku menetes. Wajahku cemberut. Aku cemburu.

Seberkas cahaya memantul dan masuk ke mataku. Kulihat yang lain. Inikah diriku? Inikah penggenap keberadaanku? Hasratku bergejolak.

Lalu sebuah suara membahana menusuk telingaku. Suaranya keras dan lantang. Suara itu berasal dari dia yang meretakkan kebersamaanku, yang merobek keutuhanku. Dia memperlakukanku dengan lembut, tapi ada yang aneh di dalam kelembutannya. Dia tertawa ke wajahku, tapi tawanya terdengar mengerikan. Dia mengusap kepalaku, tapi tangannya terasa begitu kasar.

Segera saja dia menyesakiku dengan suara-suara yang tidak kumengerti. Duniaku seolah terguncang.

“Seperti ini,“ katanya, “dan bukan seperti itu.“ Dia melanjutkan kata-katanya.

Kata-katanya bagaikan teka-teki yang menghantui keingintahuanku. Jika teka-teki itu terjawab, aku akan bisa bersatu dengan yang-lain. Kucoba untuk memahami teka-teki itu. Kuusahakan untuk menjawab teka-teki itu. Begitu terjawab, kubunuh sphinx yang menghalangi jalan itu. Tapi dia selalu ada. Dia selalu mencegah penyatuanku dengan dirinya.

Sekali lagi, dia memisahkan aku dengan yang-lain. Kata-katanya mulai sering menghiasi benakku. Kata-kata itu perlahan mengendap, mengeras, mewujud menjadi penanda-penanda yang mengidentifikasi siapa aku. Dia tidak hanya memisahkan aku dengan objek hasratku, dengan yang-lain, tapi juga membentuk dan mendefinisikan objek hasratku, aku-seperti-yang-diinginkannya. Dengan perlahan juga, aku bersenyawa dengan dunia yang telah dibentuknya. Aku terlarut dalam realitas yang telah didefinisikannya. Objek-objek hasratku adalah penanda-penanda imajiner yang didiktekannya.

Kurasakan kegembiraan pada sikapnya ketika sebuah penanda yang baik merepresentasikan diriku. Dia tersenyum meskipun aku tidak mengerti maksudnya. Dia bernyanyi meskipun aku tidak memahami bahasanya. Duniaku seolah menjadi begitu damai, tenang, tiada kebisingan. Ada-ku mengutuh. Di sisi lain, ketika sebuah penanda yang buruk merepresentasikan diriku, suaranya berubah jadi menyeramkan, sama sekali tidak menyenangkan. Duniaku runtuh seketika. Ada-ku meniada. Tanpa kusadari, aku mulai menapaki jalan yang telah ditentukan itu dengan kenyamanan dan ketenangan.

Kulihat diriku di dalam cermin. Inilah aku: ada, utuh, dan berbentuk. Kulihat lagi diriku di dalam cermin yang lain: aku ada, utuh, dan berbentuk. Tapi ada-ku yang sekarang tidak cukup untuk merepresentasikan yang-aku. Dia menuntut lebih. Hasratku juga bergejolak. Aku berhasrat untuk menjadi yang-lain. Aku berhasrat untuk dijadikan yang-lain sebagai objek hasratnya. Aku berhasrat untuk memiliki yang-lain. Aku berhasrat untuk dimiliki yang-lain sebagai objek hasratnya. Aku pun mulai mencari penanda-penanda lain yang bisa memuaskan hasrat-hasratku dan yang menenangkanku.

Sedikit demi sedikit, aku mulai menemukan duniaku. Seiring berlalunya waktu, duniaku mulai menapaki kakinya di luar penanda-penanda yang dibentuk olehnya. Dirinya sekarang tidak lagi begitu menghantui identitasku. Aku telah sedikit keluar dari kerangkeng yang dibentuknya. Kubentuk diriku sendiri dengan sebuah fungsi bernama identitas. Kubentuk duniaku dengan sistem pengetahuan yang memenuhi alam pemikiranku. Dan dengan kekuatan hasrat, kujamah segala kemungkinan diluar tapal batas rasioku. Kekuatan hasrat itu memanifestasikan wujudnya ke dalam fantasi-fantasiku.

Kulihat buku bergambar dihadapanku. Lalu kulihat diriku di dalam cermin.

“Aku adalah Achilles yang perkasa.“ Begitu bisikku kepada diriku sendiri.

“Aku adalah Achilles yang perkasa, yang berasal dari suku Myrmidon. Semua puja dan puji dialamatkan kepadaku. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatanku. Aku adalah seorang jendral yang akan merobohkan tembok-tembok keangkuhan kerajaan Troya. Lagu-lagu kesedihan akan disenandungkan oleh para Muse pada kematianku sehingga para punggawa-punggawa Olympus pun tak kuasa menahan air mata. Kisah kepahlawananku akan diceritakan oleh generasi selanjutnya dan selanjutnya hingga dunia ini tak lagi menuturkan kata.“

Tapi, aku yang begitu perkasa dalam fantasiku, tidak berdaya di hadapan dunia. Aku selalu dalam keadaan berbenturan dengan dunia luar. Dunia luar selalu dalam keadaan menginterpelasi identitasku. Hasratku dijamah oleh ribuan godaan penanda. Betapa pun kritisnya aku bertahan, betapa pun menjengkelkannya aku membangkang, aku akan selalu dibentuk dan aku tidak akan pernah menjadi aku.

=========

Tulisan ini diambil dari sebuah novel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s