Posted on

Tentang Cinta dan Arkeologi

Kujejakkan setiap langkah, tapi tidak melihatnya. Kutelusuri setiap jalan, tapi tidak menemukannya. Di minggu pagi yang cerah itu, hatiku terasa sedikit sepi di tengah ramainya orang yang menikmati udara segar. Di keramaian pagi itu, aku bertemu dengan orang yang tidak terduga; Michel, teman sesama aktivis di badan eksekutif. Dia tengah berlari-lari kecil. Keringat terlihat jelas mengalir dari kepalanya yang hampir botak. Nafasnya tersengal dan kacamata elipsnya, merosot ke bawah. Dengan sedikit canggung dan diam membisu, aku berlari mengelilingi kampus bersamanya.

“Hei, kayaknya keadaan seperti ini bukan waktu yang cocok untuk merenung.“ Kata Michel sambil berlari.

“Ya?“ Aku kaget dan tersadar dari lamunan.

“Gue capek nih!” Katanya dengan napas tersengal. “Gimana kalau kita duduk dulu atau jalan kaki aja?”

“Oke.” Jawabku datar.

“Kenapa lu? Kayaknya ada sesuatu?” Michel bertanya dengan heran.

“Mmm… Nggak ada apa-apa.“ Aku sedikit ragu menjawab pertanyaannya dan balik bertanya. “Memangnya kenapa?“

“Nggak ada apa-apa ya? Lalu kenapa di wajah lu tertulis ‘Gue lagi ada masalah’? Cerita aja!“ Kata Michel menggodaku.

Kuperhatikan Michel. Aku ragu apakah sebaiknya aku menceritakan permasalahanku kepada dia atau tidak. Aku baru mengenal Michel sekitar seminggu yang lalu. Aku tidak tahu dia orang yang seperti apa. Tapi, aku tahu dia bukan mahasiswa eksakta. Aku berubah pikiran. Aku akan mengajaknya mendiskusikan sesuatu. Dan aku yakin dia akan memberikan suatu sudut pandang yang berbeda dari apa yang kuperoleh dari Jack dan Helena. Kami pun duduk di sebuah bangku taman sambil melepas dahaga.

“Gue merasakan sesuatu yang berbeda kemarin, setelah melihat dia.“ Aku berkata dengan nada datar.

Dia? Aha..!“ Kata Michel memotong  kata-kataku dan tertawa tertahan. “Ternyata begitu.“

“Begitu gimana?“ Aku sudah menduga dia akan bereaksi seperti itu.

“Ya begitu, cinta pada pandangan pertama.” Kata Michel semangat.

Aku senang mendengar jawabannya. Sepertinya dia cukup tahu tentang apa yang kumaksudkan.

“Cinta?“ Tanyaku pura-pura heran. “Menurut lu, cinta itu apa? Kenapa lu mengatakan apa yang gue rasakan adalah cinta?“

“Memangnya, apa yang lu rasakan?“ Michel terkejut.

“Gue ga tahu, mungkin gue suka dia. Tapi, apa yang gue rasakan, lebih dari sekedar suka. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.“

“Ya! Itulah yang dinamakan dengan cinta.“

“Cinta? Oke, kalau begitu, apa itu cinta?“ Tanyaku mendesak Michel. “Apakah cinta itu adalah ‘rasa suka yang lebih dari sekedar rasa suka’? Atau ‘rasa suka yang berlebihan’? Apanya yang ‘lebih’ di sana?

“Gimana ya? Gue juga ga tahu? Tapi, kenapa menurut lu, lu harus mendefinisikannya?“

“Bukankah aneh bahwa pada kenyataannya, kita telalu sering berbicara tentang cinta, tapi kita tidak tahu cinta itu apa? Dan gue juga ga mau terjebak dengan keadaan seperti yang sering terlihat.“

“Keadaan yang bagaimana?“ Michel memandang dengan heran.

“Gue melihat, apa yang dikatakan orang tentang ‘cinta‘, tidak benar-benar merepresentasikan makna dari apa yang dikatakan tersebut. Hal yang paling jelas, terlihat dari aktivitas bernama ‘pacaran’. Pada awalnya, seorang pemuda merasa mencintai seorang perempuan. Lalu dia mengungkapkan apa yang dirasakan kepada perempuan tersebut dan merekapun berpacaran. Tapi, setelah beberapa waktu, mereka bertengkar, dan tidak jarang terjadi bahwa pada akhirnya mereka malah saling membenci. Padahal, karena cintalah mereka bersama, saling mengasih dan menyayangi. Dengan begitu, cinta tidak lebih daripada rasa suka sesaat. Atau, cinta itu tak lebih dari perwujudan hawa nafsu terhadap objek hasrat. Cinta tidak lagi dianggap sebagai karunia yang agung. Cinta, di zaman sekarang, adalah sesuatu yang tidak begitu berharga untuk diperjuangkan. Bacalah ini.”

Aku memberikan Michel selembar kertas yang kuselipkan di dalam buku catatan kecilku. Michel  membacanya dengan mimik muka serius. Di kertas itu tertulis:

@#$$%%^^&&

”Sajak yang bagus.” Kata Michel masih dengan mimik muka serius. ”Tapi, permasalahannya bukanlah perlu tidaknya kita mendefinisikan ‘cinta‘, melegitimasinya melalui konsensus, lalu mempraktekkannya sehingga kita tidak terjebak dalam situasi yang tidak kita sukai. Kita harus mendefinisikan sendiri bagi diri sendiri dan meneguhkannya.“

”Mendefinisikan sendiri? Kedengarannya menyenangkan.” Aku berkata dengan nada bercanda. “Apa gue perlu menjadi seorang filsuf?“

”Ya. Tapi, pada hakikatnya, setiap orang berfilsafat.“ Michel menjawabnya dengan cepat. “Mungkin lu pernah mendengar ungkapan seperti ini: filsafat adalah sebuah permainan yang memiliki manfaat, tapi tidak mempunyai aturan main, sedangkan matematika adalah sebuah permainan yang tidak memiliki manfaat, tapi mempunyai aturan main. Ungkapan tersebut tidak hanya sekedar lelucon, tapi begitulah pada kenyataannya. Seorang filsuf bisa mendefinisikan sendiri suatu konsep lalu menelaah struktur realitas dengan konsep tersebut, sedangkan matematika, didasarkan pada definisi-definisi dan kebenaran mutlak yang tidak perlu dipertanyakan, tapi tidak memberi manfaat apapun secara langsung pada kehidupan. Dalam filsafat, cinta mendapatkan legitimasinya dalam kehidupan.“

“Bagaimana bisa?“

“Tentu saja bisa. Coba kita telaah tentang bagaimana manusia memahami cinta, memakainya dalam bahasa, mempraktekkannya dalam kehidupan, dan apapun yang terbentuk dan terjadi karenanya.“ Kata Michel sambil melihat sekeliling taman.

“Maksudnya, diskursus cinta?“

“Benar! Tapi bukan diskursus dalam pengertian yang konvensional. Kita juga harus menelaah bagaimana subjektivitas yang terbentuk dan membentuk diskursus tersebut. Dalam sejarah, suatu konsep digunakan dengan cara tertentu. Secara lebih umum, bisa dikatakan bahwa pada suatu masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu atau zaman tertentu, gagasan, opini, filsafat, praktik perekonomian, penggunaan objek, dan yang lainnya, berlandaskan pada pengetahuan implisit yang khusus yang dimiliki masyarakat atau zaman tersebut; kita sebut saja pengetahuan implisit itu dengan istilah episteme. Setiap zaman mempunyai suatu episteme tertentu yang merupakan landasan dan fundamen epistemologis bagi zaman tersebut.“ Kata Michel masih dengan mimik serius.

“Tunggu dulu, jika setiap zaman mempunyai suatu episteme tertentu dan kita andaikan ada banyak zaman yang kita ketahui atau yang telah kita lalui, maka setiap zaman pastilah berbeda dengan zaman lainnya. Ini kedengaran masuk akal. Tapi, konsekuensinya adalah setiap zaman terputus secara epistemologis dari zaman sebelumnya dan sesudahnya. Ini justru kedengaran tidak masuk akal, seolah-olah sejarah itu melompat. Terjadi kontradiksi di sini.“

“Tidak ada yang kontradiktif dan sejarah memang melompat. Kita bisa menemukan sebuah contoh konkrit dari ilmu fisika; bagaimana ilmu fisika sebelum dan sesudah Copernicus dan Galileo, serta bagaimana ilmu fisika sebelum dan sesudah Planck dan Einstein. Dalam sejarah sistem pemikiran, kita akan menemukan lebih banyak lagi. Di sini, kita bisa melihat bahwa ada keberkaitan antara peristiwa-peristiwa tertentu dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Peristiwa-peristiwa ini meninggalkan jejak dibelakangnya yang menentukannya dengan peristiwa sebelumnya. Melalui jejak-jejak inilah kita melihat diskontinuitas; mewujudnya keretakan-keretakan epistemologis dalam sistem pemikiran dan pengetahuan. Dengan begitu, kita tidak bisa mengkaji diskursus dalam konteks kontinuitas sejarah. Dan pada kenyataannya, diskursus memang tidak sama dengan sejarah.“ Michel terdiam sejenak. Dia seperti berusaha mengingat sesuatu. “Dalam rangka menyelidiki diskursus-diskursus, seingat gue, ada tiga konsep yang berkaitan erat satu sama lain, yaitu positivitas, apriori historis, dan arsip. Ini sebagaimana yang gue baca dari sebuah buku. Pertama, positivitas suatu diskursus adalah apa yang menandai kesatuan diskursus itu dalam suatu periode tertentu sehingga kita dapat mengatakan bahwa dua pengarang atau ilmuan berbicara tentang hal yang sama atau hal yang lain. Jadi, positivitas merupakan ‘lingkup komunikasi‘ antara pengarang-pengarang atau ilmuan-ilmuan. Kita bisa mengatakan bahwa positivitas itu tidak seluas ilmu, tapi lebih luas daripada suatu mahzab. Apa yang memungkinkan suatu positivitas disebut apriori historis, yaitu keseluruhan syarat dan aturan yang menentukan diskursus. Semua syarat dan aturan itu tidak datang dari luar, tapi menentukan diskursus dari dalam, menentukan perwujudan diskursus itu sendiri. Sedangkan arsip adalah sistem pernyataan-pernyataan yang dihasilkan oleh pelbagai positivitas sesuai dengan apriori historis masing-masing. Dapat dikatakan juga bahwa arsip adalah sistem pembentukan dan transformasi pernyataan-pernyataan. Dengan begitu, kata ‘arsip‘ tidak boleh dimengerti dalam hal pasif saja; sebagai endapan-endapan dokumen dari masa lalu, arsip juga memungkinkan timbulnya pernyataan-pernyataan.“ *

“Itu berarti, diskursus bukanlah manifestasi dari subjek yang berpikir atau berbicara.“ Aku bingung dengan pernyataanku sendiri.

“Benar! Diskursus adalah totalitas yang didalamnya, perkembangan subjektivitas dan diskontinuitasnya dengan dirinya sendiri dapat diketahui. Apa yang terjadi pada subjek tidak hanya berasal dari subjek itu sendiri, tapi oleh diskursus itu sendiri. Dengan begitu, kita bisa melihat hubungan antara diskursus dengan subjektivitas bahwa diskursus membentuk individu secara historis dan kultural.“ Katanya dengan nada serius.

“Meskipun begitu, individu adalah subjek yang berpikir, karenanya, individu masih memiliki kebebasan untuk menentukan posisi subjektivitasnya dalam diskursus. Ini tidak serta-merta menundukkan subjektivitas dalam kungkungan struktural yang dibentuk diskursus.“

“Kalau begitu, menurut lu, kenapa ada kecenderungan yang berbeda di setiap zaman? Mungkin saja individu tahu apa episteme yang berlaku di zamannya dan dia tidak bertingkah laku atau tidak berpikir sebagaimana mestinya di zaman tersebut. Tapi, kenapa dia tidak bisa begitu saja keluar dari keterjebakannya di dalam sistem pemikiran pada zaman tersebut?“

“Tentunya, ada suatu relasi yang bermain di balik diskursus.“ Aku menjawab pertanyaan Michel dengan keraguan.

“Ya, ada. Suatu relasi yang memungkinkan sebuah diskursus bertahan dan diskursus lain tenggelam. Suatu relasi yang memetakan subjektivitas-subjektivitas dalam diskursus. Relasi itu dapat kita sebut kekuasaan. Kuasa ada dimana-mana, tapi bukan milik siapapun. Kuasa juga tidak datang dari luar, tapi menentukan susunan, aturan-aturan, dan hubungan-hubungan dari dalam, bahkan bisa saja memungkinkan semua itu; sosio-ekonomik, pendidikan, pengetahuan.“ Michel berkata sambil menggerak-gerakkan tangannya. Michel berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Melalui cara seperti ini, kita bisa menelaah bagaimana suatu zaman memahami cinta, memakai konsep tentang cinta dalam kehidupan, sastra dan pemikiran, dan bentuk subjektivitas yang dihasilkan dari semua itu.“

“Sebuah pemikiran yang sangat menarik. Itu berarti, kita harus meneliti arsip-arsip dan menyingkap episteme suatu zaman.“

“Itulah yang harus dilakukan, meneliti arsip-arsip dan menyingkap episteme. Kami menyebutnya Arkeologi, tapi bukan dalam pengertian seperti yang selama ini dipahami; studi mengenai benda-benda purbakala.“ Kata Michel tersenyum. “Sayangnya, peradaban kita tidak meninggalkan arsip-arsip yang lengkap mengenai cinta, bangsa kita bukanlah bangsa yang suka menulis. Mungkin kita bisa menelaahnya dalam peradaban barat, bagaimana bangsa Yunani Kuno memahami cinta, bagaimana dalam sastra, contohnya Goethe dan Hegel di zamannya, memakai cinta. Bahkan rasanya, cinta yang dikaitkan dengan aktivitas pacaran adalah barang baru yang dibuat belum lama ini. Itu semua hanya dugaan. Dan kalau lu mau mencoba memahaminya, kenapa tidak; sebuah arkeologi pengetahuan tentang cinta?“ Kata Michel sambil tersenyum senang.

“Lu benar-benar seorang pemikir yang luar biasa. Bukan tidak mungkin sebuah institusi bergengsi dan prestisius seperti Collège de France akan menawarkan sebuah kursi keprofesoran buat lu dan memberinya titel ‘Sejarah Sistem Pemikiran‘.“ Kataku memujinya.

“Kalau memang ditawarkan, kenapa tidak?“ Michel berkata sambil mengernyitkan dahinya.

Kami tertawa. Aku merasa senang bisa berdiskusi dengan Michel. Tapi sayangnya, waktu tidak mengijinkan kami berdiskusi lebih lama. Setelah berpisah dengan Michel, aku kembali ke tempat kos.

Aku tidak bisa menahan keingintahuanku. Kutelusuri beragam literatur, kubaca kritik-kritik tentang apa yang telah dihasilkan budaya. Kupikirkan dan kurenungkan masalah ini lebih lanjut. Setiap zaman memang berbeda, begitu juga pengetahuan yang telah mereka hasilkan. Hanya saja, aku tidak berhasil menemukan sesuatu yang benar-benar berbeda secara esensial mengenai cinta dalam kaitannya dengan periodisasi sejarah. Aku tidak menemukan secara berarti keretakan-keretakan epistemologis yang mentransformasikan pengetahuan tentang cinta dalam perjalanannya. Dari dulu sampai sekarang, cinta memang seperti itu. Bukan tidak mungkin bahwa dugaan Michel tentang pacaran pun adalah salah; pacaran sudah muncul sejak lama, jauh sebelum manusia mempraktekkannya dalam kondisi dan istilah seperti sekarang. Cinta adalah sesuatu yang bersifat trans-historis dan trans-kultural. Memang, harus diriku sendiri yang memaknai tentang apa itu cinta.

* Filsafat Barat Kontemporer; Prancis oleh Prof. K. Bertens (Gramedia, 2006).

=======

Tulisan ini diambil dari sebuah novel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s