Posted on

Senja Berlalu

Matahari bersegera untuk menenggelam di kala itu, tapi sejenak berhenti ia. Tanpa mempedulikannya, orang-orang sibuk berlalu-lalang, mengejar sang waktu yang selalu beranjak diam-diam. Diantaranya, mereka meneriakkan klakson kepada yang ada di depannya dan kepada yang lainnya. Sungguh, tidak merdu senja menyanyi di tempat itu. Atau mungkin dia sedang bersedih karena burung-burung tidak lagi terbang menghiasi jubah berkilaunya. Atau mungkin dia sedang gelisah karena kelelawar terlambat keluar untuk menunaikan tugasnya. Atau mungkin yang mungkin pun bukan lagi sesuatu yang mungkin.

Bayang-bayang memanjang menggapai-gapai setiap apa-apa yang melewatinya. Tiada terpikir baginya berhenti untuk berjuang agar sampai di ujung timur. Matahari, lalu bersembunyi di balik pepohonan, lalu mengamati di sela kerimbunan. Ditaburnya kemilau emas dan jingga di belantara ungu. Menjamah angkasa katanya, dengan cerah yang kian redup dalam keindahan. Kaki langit melangkah naik, semakin meninggi dan semakin meninggi. Pelan kemenenggelamannya masih bernyanyi ia di kebisuan yang berselimut hiruk pikuk.

Meskipun langkah-langkah mulai menapak beriring lelah, meskipun tetes-tetes keringat sudah membasah dan mengendap, energi hasrat tiada pernah di ketiadaan, bergejolak untuk terus menikmati. Kala itu, seolah, sang kala terjerat di dalam kala. Senja berhenti sejenak, matahari terapung di sudut langit, angin melambaikan sejuk, dan burung terbang, meliuk dengan sayap tak bergeming. Mata bagi hari, sebelum lelap dalam keterlelapannya, melihat sedikit sisi lain, keterpesonaan yang ditawan keganjilan yang berselimut keriangan.

Kemudian angin mulai menata awan. Kemudian awan mulai melukis langit. Kemudian langit membiaskan anggun. Lalu anggun tidak lagi dibiaskan langit. Karena langit tidak lagi dilukis awan. Karena awan tidak lagi ditata angin. Dan tidak ada apa-apa lagi, dan apa-apa tidak lagi meng-ada. Cahaya dari mata-nya hari, telah diam merangkak, menenggelam, lalu menghilang di selangkangan langit. Lalu yang lalu pun berlalu. Yang akan datang akan datang. Dan yang sekarang adalah sekarang yang tidak lagi, dan tidak akan pernah lagi , dan tidak dapat pernah lagi yang sekarang.

Tapi dimana yang lain? Dan dimana apa-apa yang belum menjadi yang lain? Dan dimana yang lain yang akan menjadi yang lain yang lain? Di malam dia mewujud lagi, menjadi, memberi arti, untuk kemudian menenggelam lagi. Maka beruntunglah mereka yang menjauhkan lambungnya dari kasur di malam hari, dan beruntunglah mereka yang mengais makna di saat yang lain melelap. Mereka yang memulai setelah senja berakhir, mereka yang mensyukuri pagi, mereka yang menghiasi hari, mereka yang, kemudian, menikmati senja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s