Posted on

Symphony No. 19 in D

Cinta adalah… Cinta itu…

The First Movement: Edvard Greig – I Love You

Hal-hal seperti itu masih saja menghantui gw. Sebagian mengatakan bahwa tidak adanya gunanya membahas tentang cinta. Yang lain mengatakan bahwa cinta tidak untuk dipikirkan, dipahami, dan disistematiskan; cinta ada untuk dirasakan, dimaknai, dan disebarkan. Tapi, bagaimana kita bisa melakukan semua itu jika kita tidak memahami apa itu cinta? Kita merasakan apa yang tidak kita pahami. Mungkin begitulah cinta bersemayam dalam pemahaman dan pengetahuan manusia. Beberapa bulan hingga beberapa hari yang lalu, gw berjalan, berpetualang, dan mencari apa itu cinta. Dan apa yang gw peroleh adalah nilai-nilai yang – boleh dikatakan – bersifat subjektif. Cinta bersifat umum, tapi kitalah yang memaknainya.

Bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi gw untuk menuliskan dan mempublikasikan catatan ini di sini. Dan bukan berati pula bahwa tulisan ini adalah curhat. Sama sekali tidak menyenangkan mempermasalahkan hal-hal yang bersifat begitu umum dengan begitu banyak orang yang tidak dikenal di tempat ini, di blog ini. Tapi, semua orang merasakan cinta, semua orang membicarakan cinta, dan semua orang – mungkin – pernah mendiskusikannya. Kelihatannya menarik. Tanpa mempedulikan sisi-sisi epistemologisnya, cinta telah mewujud menjadi semacam diskursus yang melintasi sejarah dan budaya.

 

The Second Movement: Jacques Offenbach – Orpheus in the Underworld

Hanya saja, seorang matematikawan atau mereka yang tengah berpetualang guna mengklaim kesarjanaan mereka atas matematika – gw tentunya – tidak akan atau sulit untuk menerima begitu saja apa yang terberi tanpa dikonfirmasi. Dapat dimengerti karena para matematikawan – sebagaimana yang dikatakan George Gamow – adalah orang-orang keras kepala yang ketika berbenturan dengan konsep-konsep yang tidak masuk akal dalam teorinya, maka mereka akan menggunakan kepala mereka sebaik mungkin agar apa-apa yang bermasalah itu berkesesuaian dengan teori-teori yang telah mereka pahami; mereka menuntut segala sesuatunya konsisten secara logis dan komprehensif: sebuah bencana epistemologis bagi ‘cinta’ (mungkin mereka memang gila).

Dengan begitu, sebuah definisi sebagai titik awal keberangkatan, diperlukan di sini. Tapi, sekali lagi, hal itu, sebagaimana “yang dikatakan orang-orang“, adalah sesuatu yang tidak diperlukan, jika bukan mustahil. Gw contohkan sebuah definisi (gw yakin gw waras ketika menulis definisi yang berikut ini):

Definisi cinta : Misalkan x adalah makhluk yang bisa mengklaim eksistensinya dan x mampu memahami pengalamannya, baik yang bersifat transendental maupun imanental dan y adalah objek yang tidak harus seperti x. Maka cinta adalah suatu relasi yang memetakan pasangan (x,y) ke suatu keadaan……… Dalam kasus khusus, jika y sejenis dengan x, yang berarti bahwa y juga makhluk yang bisa mengklaim eksistensinya dan y mampu memahami pengalamannya, baik yang bersifat transendental maupun imanental, maka………

Ya… begitulah… Definisi di atas terlalu antroposentrik. Gw ga tahu apakah kucing bisa mengklaim eksistensinya. Jika tidak, maka tidak ada yang namanya ”cinta” dalam hubungan sesama kucing. Apakah memang begitu? Atau apakah memang tidak ada/perlu definisi cinta? Atau gw yang gila? Dari keadaan ini, tiadanya konsep yang adequate, maka jelas bahwa bermain-main dengan cinta adalah sesuatu yang “cukup berbahaya“. Berhati-hatilah dengan janjimu terhadap Eurydice.

 

The Third Movement: Monoral – Kiri

Das bekannte überhaupt ist darum,
weil es bekannt ist, nicht erkannt.
(G.W.F. Hegel)

Begitu kata Hegel bahwa hal yang akrab tidak selalu dimengerti secara jelas semata-mata karena hal tersebut familiar. Dan ungkapan tersebut sangat cocok dialamatkan kepada “cinta”. Tapi, mungkin juga memang terlalu abstrak jika yang ditelaah hanya ‘cinta‘ karena cinta tidak dapat ada begitu saja. Cinta justru meng-ada secara intensional. Cinta adalah berarti ‘cinta kepada’ atau ‘cinta terhadap’. Cinta membutuhkan objek sebagai muara dari apa yang dirasakan subjek. Membingungkan…

Apakah itu berarti esensi dari cinta adalah konflik? Jika suatu subjek (manusia) mencintai subjek (manusia) yang lain, maka yang akan terjadi adalah keadaan saling mengobjektivikasi yang satu terhadap yang lain. Ini jelas tidak mungkin terjadi dalam kaitannya dengan cinta. Dan dengan begitu, jelas juga bahwa mencintai adalah berarti menjadi yang-lain; mengalienasi diri. Terdengar tidak menyenangkan, tapi pada kenyatannya, kita memang tidak bisa mencintai manusia lain jika kita menghendakinya seperti sesuatu yang kita inginkan.

Kita, dan manusia yang lain, tidak pernah sempurna dan akan senantiasa berubah. Jika kita tidak bisa menerima ketidaksempurnaannya dan perubahannya, maka yang kita cintai hanyalah bayangan platonik dalam khayalan kita yang terpantul padanya, bukan apa-apa dia-yang-dicintai. Kita harus menerimanya, menjadi kita-yang-lain-yang-mencintainya dan begitu juga sebaliknya. Cinta adalah proses dan mencintai adalah menjalani proses itu. Oleh karena itu, mencintai berarti berkorban dengan ikhlas; bagi dia yang akan melengkapi takdir ini.

 

The Final Movement: X Japan – Forever Love

Gw setuju dengan orang yang mengatakan bahwa awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dirinya. Tapi, siapa dia? Dia yang dengannya, berjalan beriringan seperti Sindoro dan Sumbing, bersanding mesra layaknya Merapi dan Singgalang, dan menyatu bersama bagaikan Gede dan Pangrango. Dia yang akan…, dia yang akan…, dan…

Mungkin belum waktunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s