Posted on

Para Idola

Kita telah berpisah dengan zaman lama, kita sekarang berada di zaman baru; dengan rasionalitas baru, dengan kegilaan baru. Realitas yang menampak tidak hanya ditelaah. Kemaujudan kita tidak hanya untuk memeriksa kesahihan alat untuk menelaah realitas, tapi, lebih dan lain daripada itu; menafsir. Apakah dan siapakah diri; diri yang berpikir, diri yang berkesadaran, diri yang berada dalam dunia? Haruskah aku keluar dari sejarah kedirianku untuk melihat diri-ku? Mampukah aku menafsirkan semua itu? Aku ada; aku menyadari diriku, aku menyadari duniaku. Yang-aku adalah milik pribadiku; semua masa lalu yang telah kulalui, seuntai masa depan yang akan kujalani, perasaan yang menghinggapi tingkah lakuku, pemikiran yang mempengaruhi pengalamanku, semua yang membentukku menjadi seperti aku-yang-sekarang: semua itu milikku, kurasakan sendiri, kutanggungg sendiri, dan kunikmati beban itu sendiri. Aku bukanlah orang lain dan tidak akan pernah dapat menjadi orang lain dan orang lain tidak akan pernah tahu tentang semua dan apa pun tentang diriku. Semua terselubungi oleh waktu, oleh kebohongan-kebohongan yang kulakukan secara spontan, oleh perasaan-perasaan terdalam yang selalu kupendam, oleh diri-ku yang lain yang berada dalam dunia bersama dunia dan diri-diri yang lain: aku menuju diriku sendiri. Mereka yang tertawa bersamaku, mereka yang menangis di sampingku, mereka yang meminum kegilaan dan mengunyah kerasionalan; bergejolak di atas permukaan-permukaan kulit dan panca indra tanpa tahu kedalaman: semua ini palsu dalam ada-nya. Aku adalah aku-yang-mereka-inginkan; membaca majalah yang mereka baca, memakai pakaian yang mereka pakai,  mencemplungkan diri ke dalam rutinitas yang berbalut kepongahan dan kemengeluhan. Kerinduan merayap dan bersegera menggenangi segala dimensi diri: aku ingin menjadi aku-yang-autentik; aku ingin menghadiahi senyum, tawa, air mata, kebahagiaan, dan kesedihan dari diri-ku, dari diri yang segenap kata merangkai mendefinisikan aku-yang-autentik. Kumerasa, semua absurd nyatanya; ditempa oleh panas terik membakar dan hujan dingin menguyup, keautentikan hanyalah berlepas dari segala apa-apa; terasing tersendiri. Diri adalah aku-yang-terlempar, menggeliat di keterasingan bersama yang-terasing menuju keautentikan yang tiada meng-ada. Diri hanyalah aku-menuju-ketiadaan dalam menginterpretasi-yang-meniada. Kemenduniaan diri menuju keautentikan sejati adalah membebas dari kemewaktuan wujud. Aku mencemas; beginilah aku adanya: segumpal selubung kelam menghitam meruang membungkus kesadaranku. Tapi, aku tidak mau terkurung; keterasingan adalah juga menyiksa diri. Jika realitas adalah hasil interpretasi dari pemikiran dan pemahamanku atas dunia, maka sebuah atribut jelas melekat pada eksistensiku: kebebasan; bukan kebebasan semu yang terkurung dalam kemeng-ada-an dan terperangkap dalam pilihan-pilihan. Kebebasan itulah yang mendefinisikan siapa aku. Kebebasan itulah yang mewujudkan yang-aku. Kebebasan itu menjalari setiap pembuluh darahku. Kebebasan itu merasuk di setiap relung jiwaku. Aku hanyalah seonggok daging yang membungkus sepotong tulang jika tanpa itu. Itulah proyek besar diri dalam sejarahnya yang mendunia; terbebas dari benda-benda yang membelenggu kedirian, terbebas dari objek-objek yang mengungkung kesejatian. Tapi, aku bukanlah seorang anak kecil yang akan menangis jika keinginannya tidak terpenuhi. Aku bukan seorang pecundang yang selalu tidak bisa menghargai yang namanya kekalahan. Aku tahu bahwa aku hidup dalam duniaku dan aku tahu bahwa ada dunia lain yang dihuni dan dihidupi oleh orang lain. Aku tahu bahwa setiap orang sama sepertiku, juga mempunyai kebebasan. Aku harus menghargai kebebasan yang dimiliki oleh orang lain. Aku harus membagi kebebasan itu dengan orang lain. Kebebasanku dibatasi oleh kebebasan mereka. Kebebasan mereka dibatasi oleh kebebasanku. Kebebasan itu adalah ketidakbebasan terhadap yang lain; kebebasan adalah konflik eksistensial tak berkesudahan dalam kebersamaan setiap diri di ruang keterasingan. “Kita, manusia, dikutuk untuk bebas!” begitulah hakikatnya. Semua orang mengenal kata-kata itu. Semua orang mengetahui kata-kata yang dilontarkan oleh Jean-Paul Sartre itu. Termasuk aku. Kata-kata itu, entah kenapa, entah dimana. Kalimat itu, entah bemaksud apa, entah bertujuan kemana. Ungkapan itu, begitu telak mengguncang eksistensiku. Begitu mengena mengacaukan kesadaranku. Begitu rancu membingungkan pikiranku. Aku adalah makhluk yang bebas dengan segala bentuk ketidakbebasannya; kebebasan justru menghadirkan kehampaan tanpa orang lain; keterasingan lain justru mewujud seiring dengan ketiadaan benda-benda dan objek-objek lain. Bagai fatamorgana di gurun Sahara; diri-yang-autentik hanyalah bayangan. Rindu-rindu yang menggenangi kedirianku mengering untuk kemudian membekaskan sebuah tanya; apakah memang ada diri-yang-autentik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s