Posted on

Socrates dan Fitch

“Apa yang lu ketahui?”

“Gue mengetahui banyak hal, tapi jika dibandingkan dengan hal-hal yang tidak gue ketahui, maka yang gue ketahui adalah gue hampir tidak tahu apa-apa.”

“Itu berarti lu tahu tentang seberapa banyak yang-diketahui, dan lu juga tahu seberapa banyak yang lu ketahui serta lu juga tahu seberapa banyak yang tidak lu ketahui. Darimana atau bagaimana lu tahu tentang hal itu? Dan bagaimana cara lu  mengkuantifikasinya?”

“Haruskah gue menjawab pertanyaan barusan?”

“Tentu saja, jika tidak begitu, jawaban lu tadi tidak lain hanya sekedar retorika filosofis.”

“Gue hanya bisa memberikan jawaban bahwa jawaban bagi pertanyaan lu barusan adalah satu dari sekian banyak hal yang tidak gue ketahui.”

“Suatu cara menghindar yang cerdik atau mungkin lu memang tidak mengetahuinya.”

“Jika begitu, bagaimana kita menjelaskannya: Kita mengetahui sesuatu, tapi kita tidak tahu kenapa kita mengetahui hal tersebut?”

“Apakah itu berarti bahwa jika kita mengetahui sesuatu, maka kita juga mengetahui kenapa kita mengetahui hal tersebut?”

“Dalam tataran yang umum dan abstrak, jika kita tahu tentang sesuatu, maka ada beberapa cara kenapa kita tahu tentang sesuatu tersebut. Pertama, kita mengetahuinya melalui panca indra kita. Kedua, kita mengetahuinya melalui akal kita. Dan ketiga, kita mengetahuinya melalui intuisi kita. Ada yang mau menambahkan? … Oke, jika tidak ada, maka kenapa lu mengetahui hal tersebut, itu terjadi karena salah satu dari ketiga cara barusan.”

“Itu berarti, pengetahuan gue tentang ‘gue tahu bahwa gue hampir tidak tahu apa-apa’ adalah karena pengalaman indrawi, pemahaman akali, atau intuisi yang gue alami. Kalau begitu, apa yang bisa gue ketahui? Apakah ada hal yang tidak bisa gue ketahui?”

“Seharusnyalah yang kita ketahui adalah yang-ada.”

“Yang-ada? Maksudnya, sesuatu itu memiliki eksistensi?”

“Sesuatu yang-ada tidak harus memiliki eksistensi. Tapi, sesuatu yang memiliki eksistensi, pastilah ada. Sesuatu memiliki eksistensi, berarti sesuatu itu menempati ruang dan waktu tertentu serta tercerapi secara indrawi, dan dengan begitu, sesuatu itu pastilah ada. Seperti kita manusia, kita memiliki eksistensi karena kita menempati ruang dan waktu dan tercerapi secara indrawi. Sebaliknya, karakter-karakter dalam mitologi, mereka ada, tapi mereka tidak memiliki eksistensi.”

“Itu berarti segala sesuatu bersifat ada. Dan karena yang kita ketahui adalah yang-ada, maka kita mengetahui segala sesuatu. Tapi, kenyataannya, tidak segala sesuatu kita ketahui.”

“Pertama, jika ada sesuatu yang tidak dapat diketahui, agar sesuatu itu dapat diatributkan sifat ada padanya, tentulah sesuatu itu harus diketahui, entah dengan cara apa pun. Jika tidak demikian, tidak mungkin kita dapat mengatributkan sifat ada padanya. Di samping itu, jika sesuatu itu tidak dapat diketahui, pada hakikatnya sama saja dengan mengatakan bahwa kita mengetahui tentang sesuatu itu bahwa kita mengetahui sesuatu itu tidak dapat diketahui. Dan jika kita memang tidak dapat mengetahui sesuatu, maka sesuatu itu pastilah tidak ada. Lalu, berikutnya, apakah kita mengetahui segala sesuatu? Tentu saja kita mengetahui segala sesuatu karena kita mengetahui bahwa yang-ada itu ada. Yang-nyata, yang-tampak, yang-khayal, dan semuanya haruslah memiliki sifat ada. Ada adalah sifat fundamental yang dimiliki segala sesuatu. Jika sesuatu itu tidak dapat diketahui, maka sesuatu itu tidak ada. Sedangkan pada kenyataannya, bukannya kita tidak mengetahui, tapi kita tidak memahami.”

“Itu berarti, yang gue ketahui adalah segala sesuatu, tapi tidak segala sesuatu itu gue pahami?”

“Tentu saja.”

“Tapi, keadaan ini akan menimbulkan sebuah masalah; ada meliputi segala sesuatu, dan karena segala sesuatu yang diketahui itu ada, maka, jika kebenaran itu ada, kita haruslah mengetahui segala kebenaran yang ada itu. Pada kenyataannya, ada kebenaran yang tidak kita ketahui. Apakah itu berarti kebenaran yang tidak kita ketahui itu adalah sesuatu yang tidak-ada? Secara sederhana, kebenaran itu ada, oleh karenanya, ia dapat diketahui, tapi ada kebenaran yang tidak kita ketahui, itu berarti kebenaran itu tidak-ada. Dan juga, jika semua kebenaran dapat diketahui – karena sifat ada-nya, maka semua kebenaran pastilah diketahui. Tapi, kembali lagi ke masalah tadi, tidak semua kebenaran diketahui. Atau, yang lebih membingungkan lagi adalah; adakah kebenaran yang tidak bisa diketahui?”

“Yang barusan adalah sebuah paradoks. Dan yang terakhir – adakah kebenaran yang tidak bisa diketahui – lebih dekat ke masalah bahasa; dapatkah kita menyebut sesuatu sebagai kebenaran jika kita tidak bisa mengetahuinya?”

“Aduh! Tiba-tiba kepala gue sakit perut. Gimana kalau kita kembali ke bumi?”

“Apa yang mau lu diskusikan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s