Posted on

Dunia Kita

Dulu, kita berteman sambil bertatap muka dan kita bersenda gurau, bercanda tawa, hingga bersuka dan berduka cita sambil memandang wajah. Terkadang kita berpisah dan berkirim kata untuk menaklukkan ruang yang membentang di antara ujung-ujung rindu. Tapi, komunikasi kita tidak sepadat dan seintensif sekarang. Kita juga bercerita panjang lebar tentang ini itu dan pada saat itu, entah kenapa, waktu berkontraksi, menyingkat, seolah 3 jam kita bercerita, yang bisa dirasa hanya 1 jam. Sementara, ketika kita terpisah, waktu mengalami pemuluran hingga 3 hari bisa berkembangbiak dan terasa menjadi seminggu. Kita yang ingin bertemu, terhalang oleh jarak yang membentang dan waktu yang memanjang. Dan pada saat itu, kita yang bertemu, dalam memaknai silaturahmi, merasa begitu menemukan makna hidup; inilah hidup, kau berucap.

Sekarang, ruang-ruang sosial kita terbelah dan kita pun berpindah. Kita bereksodus ke dunia maya. Kita tenggelam dalam realitas-realitas virtual, bergelimang tanda, berbicara tak karuan, dan kita begitu senang. Kita menemukan tempat hidup baru. Di sana, kita selalu dalam keadaan berjumpa. Di sana, kita selalu terjaga. Bagaimanapun keadaanmu yang sebenarnya, di sana selalu meng-hadir. Komunikasi kita berkembang intensif; setiap hari, setiap jam, hingga setiap menit. Semua teruntai dalam rangkaian kata-kata pendek; kesenangan, kebahagiaan, kedukaan, keluhan, hingga keputus-asaan. Kita menuliskan semua di dinding rumah kehidupan kita. Kita berkicau tentang segala apa-apa dalam alur-waktu kehidupan kita. Kita jadi sibuk membicarakan diri sendiri, orang lain dan yang lainnya. Kita juga sibuk untuk lupa kapan harus beristirahat sejenak dan melihat indahnya dunia di luar dunia virtual kita.

Yang lain pun mengikuti perpindahan itu. Sekarang, kita telah hidup di dua dunia dan kita menghidupi diri di dua dunia. Tidak ada tempat di hanya-salah-satunya karena jika tempat itu ada, maka salah satu tempat yang-lain pastilah dinamakan sebagai keterasingan. Aku tidak mau berada di situ, dan tidak ada yang mau berada di situ. Maka kita benar-benar hidup di keduanya; di kenyataan dan di kevirtualan, dan kita pun mabuk dalam ekstasi berkomunikasi. Tapi, yang kurasakan, kesenangan yang kita gapai mulai terasa hambar, rindu-rindu yang kita peluk mulai terasa hampa, dan silaturahmi yang kita rajut pun mulai kehilangan makna. Kau berkata dalam tulisan tentang ini dan itu. Dan kutanggapi dengan begini dan begitu. Tapi semua, tidak seperti sebagaimana seharusnya dan semua tidak lagi sebagaimana adanya. Aku melihatmu dengan berbagai hiasan, penuh kemilau, bercahaya terang, tapi aku tidak yakin bahwa yang kulihat adalah dirimu. Ada yang goyah dan patah, ada yang hilang dan berlobang. Dirimu menjadi transparan, aku bisa melihat dirimu sampai ke dalam melalui kata-kata, tapi tidak ada apa-apa di dalam sana.

Sekarang, aku tidak tahu lagi makna tulisan-tulisanmu. Aku tidak lagi menangkap pesan-pesanmu. Semua berhamburan tak karuan di segenap sudut mataku. Hati ini jadi semakin jarang terharu mendengar kabar dukamu. Hati ini juga semakin jarang bahagia mendengar tawa senangmu. Semua serba diliputi keraguan. Kau mengeluh dalam tulisanmu. Tapi benarkah kau mengeluh? Atau itu hanya salah satu cara bagimu untuk tampil di depan orang lain? Dan kau juga terbaca bahagia. Tapi benarkah kau bahagia? Atau itu hanya kegelisahan sesaat dari jari-jarimu yang ingin menuliskan sesuatu? Adakah dirimu di sana? Yang manakah dirimu itu?

Aku berpikir dan aku perlahan menjadi semakin terasing. Kau sebar berbagai kesenangan dan kuharap kau menikmatinya. Tapi, kau sebar juga berbagai keluhan, apakah mungkin aku bisa membantunya? Aku berharap bisa. Dan kita pun hidup dalam kerancuan. Kita menebar bahagia dan duka tanpa bisa menikmati keduanya bersama yang lain. Apa pun keadaan kita, semoga bisa kembali menemukan segala apa pun makna, semoga silaturahmi mengutuhkan kita dan tidak terasa hampa, dan semoga do’a yang membasahi bibir ini, terjawab dalam keridhaanNya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s