Posted on

Dalam Desember

Sejak beberapa tahun belakangan, desember yang selalu gw kunjungi dalam hidup, entah kenapa, terasa lebih istimewa dari bulan-bulan lainnya. Apakah karena ia berada di penghujung tahun? Apakah karena ia lebih sering meneteskan hujan? Apakah karena ia adalah ungkapan kemurungan dari jiwa-jiwa yang belum siap untuk berpisah dengan masa lalu yang menyenangkan dan penuh makna? Atau, apakah karena lagu yang gw sukai ini?

Gw ga tahu. Tapi, jelas ada sesuatu di bulan ini. Di bulan ini, gw berbulat tekad untuk mencemplungkan diri di segenap kemaujudan fakta-fakta tak berbentuk dan bernama matematika murni. Jika tidak, mungkin sekarang gw tengah dikelilingi oleh manusia-manusia neurotis di ruang konsultasi dan mendengar curhat-curhat mereka yang begitu rancu dan terlalu biasa, atau gw tengah berada di sebuah laboratorium yang suram dan penuh dengan artefak-artefak kebudayaan yang aneh dari masa lalu serta tengkorak-tengkorak Pithecantropus Erectus yang gw temukan di Sangiran. Apa pun itu, gw sekarang bukanlah seorang psikoanalis atau arkeolog (meskipun sampai sekarang masih membaca buku-bukunya dan selalu dibayang-bayanginya). Gw justru sedang melayang-layang karena pengaruh rumus-rumus psychedelic yang dibuat oleh mereka-mereka yang lupa daratan.

Di bulan ini, secara samar, gw melihat sosoknya yang anggun. Hal itu juga membuat gw jadi lupa daratan, melayang memasuki cumulonimbus, basah oleh butir-butir air yang meruang menggelap, dan merasa teraduk-aduk oleh rangkaian petir yang sambar-menyambar. Perkenalan dan amanah itu berujung suka sekaligus duka di kedalaman batin. Kita hanya bisa bersama, tapi tidak untuk bersatu, meskipun takdir belum memberi jawab dalam alunan waktu. Bagaimanapun, gw menikmatinya; entah itu bersama dalam tawa, atau sendiri dalam lara. Setiap tetes hujan yang membasahi bumi, turut pula bersaksi untuk cerita yang terangkai, meskipun dirinya tiada tahu kasih yang teruntai. Semua menjelmakan nada-nada indah dan cantik yang bahkan jauh lebih merdu dari segala nada-nada pentatonik.

Mungkin karena itulah gw menyukai desember. Mereka – fisikawan dan non-fisikawan – menyebutnya sebagai “momentum”. Katanya, kita melangkahkan kaki kita ke masa depan secara signifikan dengan menggunakan momentum. Benarkah? Dan mungkin memang begitu. Hanya saja, di bulan ini, momentum-momentum itu seolah terlahir dan tercipta secara alami dan tanpa diduga-duga. Keberadaannya seolah berada di luar segala sistem deterministik dan bebas dari hukum sebab-akibat. Tuhan dengan kemahakuasaanNya, membentangkan realitas, menyulam dunia, dan merekatkan hubungan-hubungan ganjil yang dari tak-berhingga banyak sebab, menghasilkan sebuah akibat, serta akibat yang tak-berhingga banyaknya, dihasilkan dari suatu sebab; tidak ada yang luput dari kuasaNya. Semua bermuram durja dan semua bersuka cita. Dan di antara semua itu, di bulan desember, pintu-pintu yang di baliknya bermandikan cahaya, membuka sehingga berhamburanlah cahaya keluar dan gw seolah memasukinya.

Dan di bulan ini juga proyek itu berawal. Begitu susah diungkapkan, begitu sulit dijelaskan. Membaca saja tidak cukup! Entah kenapa darah ini bergejolak; darah yang terwarisi dari alam budaya Ranah Minang, darah para pujangga, darah para pejuang, atau mungkin juga darah yang terwarisi dari para pemberontak. Dan sekarang pun dia meminta korban berikutnya; tubuh ini mulai ringkih, tapi pikiran ini berapi menyala-nyala: 2 buku lagi, maka lengkaplah trilogi ini… Resolusi Desember.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s