Posted on

Neurotik

Aku ingin menjadi pilot.
Kalau aku ingin menjadi dokter.
Aku ingin seperti Jack The Ripper.
Aku ingin sehebat Helen.
Aku ingin seperti Einstein

Waktunya sekolah, dan kul… ah…
Menghabiskan usia dengan persoalan-persoalan abstrak,
bersama keengganan-keengganan sesaat,
dan teriak gelisah-galau perasaan.
Teman-teman yang bercengkrama,
bersenda-gurau dalam bahagia dan duka;
menikmati hari dalam rutinitas-rutinitas bisu.

Ingin seperti mereka,
bertualang sebagai bentuk aktivitas hidup,
kuliah ke luar negeri,
tersesat dimabuk fatamorgana Sahara,
dan mencumbui bibir kelabu Kilimanjaro.
Radikal, reformis, memberontak;
menulis memoar tentang seorang idealis.

Akan ke sana kaki ini melangkah.
Entah resolusi atau hanya angan-angan kosong.
Kemalasan di tengah malam buta,
mimpi-mimpi di siang bolong.
Dan berakhir menjadi bagian dari yang lain;
ingin berbeda tapi takut dibedakan;
ingin menjadi diri sendiri tapi bercermin pada orang lain;
Ingin sendiri tapi memaksa ditemani.

Dan teori-teori yang menyebalkan,
tidak sedikitpun membantu dalam membahagiakan.
Kemana perginya si pilot, si dokter, si siapapun-itu…
Kenapa cita-cita semakin abstrak untuk digambarkan?
Keingintahuan semakin memudar,
dalam bayang-bayang masa depan yang semakin tidak jelas.
Dan sejarah tidak lagi menjadi kompas untuk menentukan langkah.

Semoga diterima menjadi PNS,
atau pegawai dengan gaji tinggi,
atau pesuruh tapi berdasi dan berbaju rapi.
Lalu kembali memeluk rutinitas,
menuliskan laporan tentang untung dan rugi,
sambil umpatan dan keluhan menghiasi.

Tidak pernah benar-benar hidup.
Merasa dan selalu merasa ingin seperti mereka.
Ingin ini mau itu beli ini belanja itu.
Sudah lebih keren dan lebih cantik seperti mereka?
Apa itu keren dan apa pula itu cantik?
Didikte untuk begini dan begitu dan meng-apapun,
bersama zombi-zombi lainnya berjalan;
berpikiran kosong sambil menatap hampa.

Ingin kegilaan tapi tak mau lepas dari kewajaran.
Lalu menjadi munafik sekaligus neurotik.
Lalu kembali lagi ke penyesalan;
Kedunguan dan ketololan yang dihormati dan ditertawakan,
tidak merasa dan tidak berpikir yang dipertontonkan.
Lalu kembali menjadi munafik dan neurotis.

Cairan empedu itu termuntahkan dan sekaligus tertelan.
Kuning cerah berbau menjijikkan bergambar kehidupan.
Semua sama dan sama dan sama seperti itu.
Melegakan entah kenapa,
menyenangkan entah bagaimana,
memuakkan yang selalu menjadi intinya.

Hidup ini tidak menyenangkan?
Jika begitu adanya, kenapa sekarang masih hidup?
Bukankah sebaiknya mati saja?

Dunia ini tidak membahagiakan?
Jika begitu, kenapa masih saja berusaha mengejarnya?
Apakah dia memang pernah menjanjikan kebahagiaan?

Surga itu menyenangkan?
Kenapa tidak ke sana sekarang juga?
Bukankah dia selalu merindu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s