Posted on

Nausea

Ketiadaan meng-ada demi akan ada-nya segala.
Di situ mataku tertutup,
di belantara gelap dengan tiada cahaya.
Semua ada demi membuka,
mencipta satu dunia baru.
Dengan perlahan cahaya masuk,
dengan diikuti bau menusuk.
Kegelapan meniada,
menghunjam mata dan telinga dalam serangkaian tawa.
Aku menangis, tapi semua bahagia,
menyongsong dunia bagi khilaf dan dosa.

Dan sang waktu kenyang memakan usia.
Pelan, perlahan, tanpa terburu nafsu.
Dunia yang begitu senang, damai, dan lugu.
Bercerita tentang siapapun yang bukan kita.
Semua menipu adanya dalam bentuk yang palsu.
Kemanapun yang tidak dimanapun semua tertuju.

Makna bersembunyi di sela dan gelap ketiadaan.
Bernyanyi dan menari menikmati nelangsa.
Menggenapkan segala apapun tanya yang menyingkap.
Cahaya yang menghujani mata, menyingkap elok pesona dunia.
Menutup gelap tempat bersembunyi sang kebenaran.

Siapa yang peduli?
Apa yang harus dipedulikan?
Semua ada dan adanya semua adalah karena ada.
Tapi ada-nya semua tidak sebagaimana adanya.
Jika semua adalah permainan sebab-akibat,
kenapa ada yang berakhir di kesia-siaan?
Mulut-mulut dan akal pikiran telah begitu lancang.

Kebenaran dan kejujuran hanya milik para pemberontak.
Bagi mereka yang tiada berdamai dengan kemunafikan.
Kutumpahkan gasolin di situ dimana kebakaran.
Dalam anarkisme kata-kata.
Dalam kekejaman makna-makna.
Meski sejarah enggan berbicara.
Kutabuh genderang perang menghujat masa.

Tiada restu bergumam dari langit dan bumi.
Walau masa lalu terbakar di pinggiran memori.
Walau masa depan masih diam terhampar suci.
Hujan yang tiada lagi membasuh dahaga,
tapi turun menyiksa dan membanjiri.
Panas yang tiada lagi menghangatkan jiwa,
tapi menukik menghunjam menyesaki.

Suara-suara bising yang memecah udara.
Menjalar menghantui di gelap kebawahsadaran.
Denting-denting nada yang memecahkan kaca.
Berdansa di sela ruang dan gendang telinga
Semua menjadi sampah di pinggiran jalan.
Tiada bermakna dan tak berarah tujuan.
Pergi saja, berlalu, dan tinggalkan!

Pada hidup yang kurajut dari benang kusut.
Pada asa yang kupeluk dalam kasih yang lembut.
Dan mereka berlalu tanpa menoleh di tipisnya kabut.
Pada mimpi-mimpi yang menghangatkan malam.
Pada nyanyian bisu yang mesra menggumam.
Dan mereka terkulai kaku berselimut kelam.

Lilin-lilin yang kunyalakan, menggelapkan cahaya.
Semangat yang kutebar, memupuk beragam duka.
Rindu-rindu yang kuhirup, menenggelam meniada.
Dunia berubah dan semua hanya meninggalkan tanya.
Hingga di suatu ketika semua akan menjadi biasa.

Tidak ada yang lebih kubenci selain daripada diri sendiri.
Tidak ada yang begitu kucintai selain daripada kematianku sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s