Posted on

Cliché

Setiap diri mengembara ditemani ruang dan waktu. Tidak ada orang lain, sama sekali tidak ada orang lain. Kita sendiri dan bersendiri di setiap sudut ruang dan waktu ini untuk selalu dan akan selalu seperti itu. Hanya kesemuan dan kepalsuan yang menemani. Semua masa lalu yang telah dilalui, masa kini yang sedang dihadapi, dan apapun masa depan yang telah menanti; aku tidak pernah menjadi orang lain, orang lain tidak pernah menjadi diriku, aku tidak pernah berpindah tubuh dan merasakan kehidupan orang lain, dan orang lain tidak pernah berpindah tubuh dan merasakan kehidupanku. Mereka, yang lain, hanya melengkapi kesendirian diri, saling bersendiri, berdiri terasing di ruang keterasingan-diri.

Tapi Tuhan juga tidak sekejam itu. Amanah memanusia ini begitu berat hingga burung-burung yang bisa terbang begitu bebas dan gunung-gunung yang menjulang begitu tegas, menolak semua amanah itu. Adalah manusia dengan kesombongan, kerapuhan, dan kebodohan dirinya yang mau dan sekaligus bisa menerima semua ini. Manusia memanusia dan menghidupi alam raya yang tandus ini; menghidupkan makna-makna, mencumbui alam raya, dalam segenap bahagia dan duka.

Atas kuasaNya langit malam berbulan berbintang dan diberkahiNya bumi dengan cahaya matahari siang. Padanya menyeruak segala hikmah dan kebijaksanaan, menutupi apa-apa dalam pekat dingin kebodohan; bagi semua yang berpikir dan menggunakan akal; di antara yang akan-berakhir dan yang telah-berawal; dalam putih-terang cahaya ilmu dan harapan; di antara arus samudera ilmu dan pengetahuan.

DiciptakanNya semua kemaujudan dalam berpasangan; memuja, menyanjung, dan meninggikan nama suciNya. Seiring waktu berlalu damai dalam langkah yang pelan; semesta, bersenandung mesra, memuji segenap asmaNya. Pada yang melata, terbang, dan berlari, dia berbunyi; menggubah nada di belantara kesunyian hari. Tiada tempat di mana tiada yang pernah berhenti; menggaung indah segala bentuk puja dan puji. Dalam berpasangan dibalutNya cinta dan kasih-sayang, ‘tuk lintasi jalan pada risau gelap dan kemilau terang. DirekatNya cinta dan kasih-sayang dengan kerinduan, ‘tuk teguhkan hati tiada menyimpang berarah tujuan. Dalam kerinduan, bersatu hati di tempat terdalam, ‘tuk lalui senang bahagia sedih menghunjam.

Tuhan menciptakan kita berpasang-pasangan agar hilang lenyap segala kesemuan dan kepalsuan yang membentengi diri. Kesendirian meniada hingga bingkai diri-diri yang retak kembali utuh, membentuk, mewujud, dan memberi arti. Namun kegelisahan dan keraguan menggerayangi segenap kemaujudanku; kepada siapa takdir kesendirianku ini harus diakhiri? Pengembaraanku dibawah terik siang dan dingin malam, seolah berakhir hampa; tiada kecerahan dalam wajah-wajah lusuh itu yang mampu memupus angan dan ingin yang membungkus diri.

Tapi kehendakNya meng-ada dengan tidak terduga dan penuh kejutan. KemahakuasaanNya berada di luar segala sistem sebab-akibat dan aksi-reaksi. Diriku hanyut terbawa romansa kehendak dan kuasaNya yang mengombang-ambingku di lautan kemaujudan yang fana yang entah kapan entah di mana, seseorang akan dipertemukanNya aku dengannya. Tiada kering bibir ini melantunkan do’a, tiada putus harap ini memupuk asa, aku percaya akan anugerahNya. Tiada kesia-siaan di alam ini, menari bergerak berirama, menyanyi melantunkan nada-nada, menampakkan segenap wujud keagungan ciptaanNya.

Untaian kata tersusun membentuk serangkaian makna. Menemani kesendirian, dia bersama menghiasi segala apa-apa hingga indah bernama. Langkah-langkah yang berserakan menyulam sang waktu hingga terhampar pesona-pesona dunia di pelupuk mata. Aku bersegera menyusun ruang-ruang itu hingga sang takdir dengan senang datang menyapa; telah kusiapkan dan kuteguhkan hati ‘tuk menyambut hadirnya. Apapun itu, yang terbaik bagai panah yang tiada pernah meleset mencapai targetnya; kususun semua hingga apapun menampak sebagaimana mestinya dan sebagimana adanya.

Ketika malam bermula, makna menyeruak menggapai diri-diri yang bersendiri di bawah redup cahaya sebatang lilin di sudut ruang. Gelisah merayap dan mengendap. Ragu menyelubungi diri, bersuka cita atas angan-angan kosong di belantara imajinasi. Tanya pun mengungkap, tapi menolak memberi jawab. Sang malam tetap beranjak pelan dalam kebisuan dan kegaduhan tawa kecil makhluk-makhluk malam. Dingin, kurangkul hati demi hangat dalam perjalanan mimpi-mimpi.

Di pusat langit, bertahtalah 3; Mintaka, Alnilam, dan Alnitak. Ditunjukinya jalan bagi pengembara malam. Sedang diri selalu terseret di hamparan kemungkinan. Dalam wajah-wajah lusuh dunia, dalam nyanyian-nyanyian merdu burung hantu, dalam gaung-gaung sendu dingin yang beku; langkah ini menghenti, menolak ‘tuk beranjak pergi, lalu duduk bersendiri. Diri yang retak, memecah dalam beribu cermin yang memantulkan seribu keganjilan diri-diri yang lain; di mana diriku dan yang mana cerminku? Tiada kutemukan ke-diri-anku.

Tiada yang lebih asing daripada diri; begitulah hakikatnya. Aku yang terjebak dalam kebertubuhan ini, hanya berusaha membersihkan serpihan-serpihan masa lalu yang tak bermakna dan mengumpulkan kepingan-kepingan masa depan yang kutulis sendiri di buku takdirku. Aku ingin melepas; terbang menggunturkan langit dan menari memecah hujan. Di mana tempat itu? Di tanah suci yang terjanji? Di kampung halaman para filsuf? Di segenap kemaujudannya, dia yang ditakdirkan bersamaku? Waktu berlalu perlahan dalam diam; terasa cepat di kebahagiaan dan terasa lambat di kesedihan, dan kita mempersepsinya di kelinearan. Orang-orang berlalu lalang dengan hanya sedikit peduli pada halangan. Dan kita pun berkenalan. Dirimukah itu yang sang takdir akan menggoreskan namamu di kanvas hidupku?

Gelisah mulai menghujani, menetes turun bagai air yang merindu kebersamaan samudra, menghantam setiap jengkal perasaanku. Kesendirianku adalah sendiri-yang-bersamamu dan kebersamaanku adalah bersama-yang-bersendiri denganmu. Tapi, semua angan yang tertuang dalam pikiran dan perbuatan, tidak selalu dan tidak harus berakhir indah. Aku menyadari dan kesadaranku menidak segala kemaujudan angan-angan kosongku.

Sebuah kebohongan jelas tergambar di sela kata-kataku ketika kukatakan bahwa aku hanya menganggap teman bagi semua lawan jenisku. Kenyataan tidak seperti itu dan tidak ada kenyataan yang seperti itu, kecuali pada pikiran-pikiran yang telah menyimpang seperti pada umat Nabi Luth AS, dan demi kasihNya, aku tidaklah seperti mereka di kota Sodom itu. Aku mencintaimu dan segenap kecintaanku telah hinggap di kemaujudanmu dalam jalinan waktu yang telah kita habiskan bersama. Itulah kisah sedih yang akan kurangkai sendiri; sebuah kisah yang sebaiknya dikubur, tidak diingat, dilempar ke dalam jurang keabadian-yang-gelap di dasar Thartaros.

Seiring sang waktu mengguyurku dengan kefanaan benda-benda, kulawan setiap kemunculanmu yang memaksa bertahta di benakku. Aku harus menyingkirkannya karena aku tahu bahwa kita tidak ditakdirkan bersama; tidak ada takdir seperti itu. Dalam setiap pertemuan, akan hadir sebuah perpisahan, beberapa perpisahan itu bersifat sementara, dan beberapa di antaranya adalah perpisahan abadi; dan perpisahanku denganmu, terombang-ambing di antara keduanya: aku tidak tahu apakah aku akan kembali bertemu denganmu dan aku benar-benar ragu bahwa aku akan kembali bertemu denganmu. Aku tidak mau berpisah denganmu, tapi aku begitu takut bertemu kembali denganmu. Tapi keberadaanmu begitu kuat untuk terus hadir. Dirimu terus menggeser segenap kesadaranku akan yang-lain hingga setiap pemikiranku memuntahkan wajahmu di sela-sela tulisanku, di antara gaung suaraku, dan di celah cahaya yang masuk ke mataku. Semua tidak sebagaimana mestinya dan tidak sebagaimana adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s