Posted on

Bermain

Mereka tersenyum, tidak peduli dengan keadaan giginya; yang berlobang, yang menghitam, yang tidak terawat dengan baik. Dia perlihatkan yang apa adanya; bukan yang diratakan oleh kawat, bukan yang berlapis emas, bukan pula hasil keterampilan tangan. Dia tidak mempunyai semua itu. Dia hanya punya yang apa adanya; semua yang bisa diberikan oleh keadaan dan kemampuannya melawan sejarah.

Dan terlihat yang lain; menggendong anaknya, menghibur mereka di bawah terik yang sedikit gerah. Mereka bermain bersama angin yang bergerak liar, bersama daun-daun yang menari antara atap dan awan. Sedih dan senang di bawah asap hitam keabuan yang bergumul bersama debu dan kerikil-kerikil kecil. Betapa segar; bagi sang penyakit di dada yang pelan dan sabar berkembang bersama masa kecilnya.

Merangkak di atas pasir berkerikil, menyulam kotornya tanah dengan imajinasi yang meluap-luap membentuk masa-masa yang tidak akan datang. Bersama berbalut baju-baju lusuh yang begitu gembira bersama kumuh dan kuman. Tertawa bersama yang lain menghirup beragam polusi udara dan peradaban.

Ahh… Inikah mereka? Kenapa mereka mau seperti itu? Kenapa mereka gembira? Kenapa mereka bisa bersenang-senang dengan itu semua? Bermain dan bermain, menghabiskan hari melupakan waktu yang enggan bercerita.

Di bawah matahari yang terbit cepat. Pagi yang tidak pernah indah hanya menyisakan sedikit makna. Di bawah hamparan cahaya siang yang gemar menusuk dan menyiksa. Berlalu angkuh tanpa meninggalkan apa dan apa dan pergi begitu saja menjemput dingin beku. Mengusir bahagia dengan menyisakan lapar dan senyum rancu yang lugu.

“Besok” bukanlah sesuatu yang bermakna untuk dipertanyakan, tapi sebuah pernyataan tak bermakna tentang yang sudah-sudah. Menghampiri lagi, menghampiri terus, begitu dan begitu dengan nyaris tiada yang berubah. Dan mereka terus menanti yang tak kunjung tiba. Sambil bermain menghibur diri mengusir nestapa yang tak ingin diingat, bertahan membusungkan dada bagi pedih yang menyeruduk cepat. Bermain dan terus bermain menolak permainan kuasa asing atas diri, lalu berlari dan terus berlari kembangkan tangan membebaskan asa di gelisah hati.

Ya… Inilah mereka. Mimpi-mimpi yang terukir dan bintang-bintang yang terlukis, di tanah kering, bersegera pudar bersama angin. Membawa kegembiraan, kesedihan, dan rindu-rindu menjelajah ruang; dalam waktu yang begitu singkat, dalam sejarah yang tidak diingat. Terus bermain dan berlari agar semua terlupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s