Posted on

Sinis

Apa yang ada dalam dunia? Tidak ada. Dunia hanyalah tempat bagi Tuhan untuk mempertontonkan kemahakuasaanNya di hadapan manusia-manusia tolol yang enggan untuk berpikir. Dunia adalah juga tempat bagi orang-orang tolol untuk menghujat kemahakuasaanNya yang tak terbatas.

Kemunafikan adalah kesahajaan yang legitim. Berdaulat dan berdialog bersama dalam hubungan intim. Tiada tempat bagi keterasingan. Kekonyolan demi kekonyolan mencemari dari palung terdalam hingga sudut hati terkelam. Menghujat satu kemunafikan dengan kemunafikan lain. Tidak lebih.

Betapa kurindu, semua yang seperti dulu, yang diam dalam kesunyian bisu, dalam senyum-senyum beku. Menyusuri masa lalu kelam demi gemilang masa depan. Yang terbungkus dalam bahagia dan kemunafikan.

Di saat semua orang menjadi pintar, di saat manusia mengklaim kebenaran nalar; yang ini salah, yang ini sesat, yang ini kafir. Menjadi begitu mewahnya kegiatan “berpikir”.

Aroma semerbak harum pikiran-pikiran yang fakir. Aku tertawa, tak berkesudahan hingga tergelincir. Entah di mana ketololan ini mesti ditempatkan, karena tiada-dimana-pun tempat bagi keterasingan.

Bersama kata-kata sampah yang mereka perdengarkan, kesejahteraan hanyalah angan berujung kegelisahan dalam kemunafikan. Karena kita semua tahu, tidak ada yang peduli dan lebih baik membisu.

Dunia lalu menjadi hamparan kekosongan yang dipenuhi oleh beragam objek rancu pikiran-pikiran yang mabuk sempoyongan. Menjadi tempat kosong di antah-berantah kesemestaan. Kita dilingkupi oleh kehampaan, tetapi kehampaan yang diisi dengan tanda-tanda.* Semua terseret dalam kesesatan ada-dunia, dalam arus simbolik yang tiada berarah tujuan. Lapangkan jalan demi memburu, bermain kuasa turuti nafsu.

Oh diriMu Sang Penguasa dan Pengatur locus autentisitas, tempat tercipta dan bermula kesejatian, dimana Kau simpan dan Kau kuak kebenaran? Di tengah ketololan yang dipertontonkan? Di sudut pemikiran yang penuh pertimbangan? Karena tidak ada kebenaran, pun kesejatian. Karena yang ada hanyalah ketololan yang tidak berkesudahan. Dalam dunia dimana semua mabuk dalam ekstasi kesemuan, menenggak alkohol mencari identitas dalam kegalauan.

Sekarang sampah berserakan dimana-mana; di segala konsep dan kenyataan. Dan kita menistakan diri menjadi pengais sampah. Berbicara mengenai politik dan kotoran seolah sama. Hidup bagai tikus kotor di selangkangan cakrawala. Ingin ini, ingin itu, ingin semua dan memakannya.

Kita memakan dan mengeluarkannya; sampah-sampah itu. Bahkan merasa berhak mendapat yang lebih banyak dari apa yang dipunyai sekarang. Terkadang memohon tambahan dengan wajah yang dipaksa lugu. Tak pernah merasa lebih, tapi selalu kurang.

Aku menikmatinya, kita semua menikmatinya; siapa yang tidak? Siapa yang tidak suka dengan kekonyolan dan ketololan yang dilakukan orang lain? Siapa yang tidak ingin melihat perang dan kerusuhan di tempat lain? Dan siapa yang tidak mau terlibat dan mengukir nama dalam sejarah meskipun tintanya adalah kotoran?

Tapi aku juga tertawa, melihat kekonyolan dan ketololan ini, merasakan segala kerancuan beracun ini. Betapa zaman telah berlalu begitu cepat, hinggap tanpa kebenaran mampu menyeruak. Apakah dia sudah gila? Menjadi paranoid berlari kencang?  Jangan berdalih, jangan membela diri. Ia tak pernah menolak apa pun. Aku akan membuang muka, itulah satu-satunya penolakanku.**

Aku tidak lagi merasakan keindahan pagi dan senja. Air sungai dan hujan tidak lagi menyejukkan dahaga. Aku acuh terhadap semua debu yang hinggap dan serangga yang menggoda. Tidak satu pun yang membiarkanku menikmati itu semua. Karena makna hanyalah sekedar teka-teki bahasa. Dan dunia hanyalah semesta hampa permainan kuasa.

Walau ketololan ini kan sirna, meski kekonyolan ini kan binasa, tawaku kan terus menggema. Karena tiada lagi yang bisa kunikmati, selain lawakan dunia yang rancu tersaji. Hingga semua kembali menjadi biasa, kan datang menyinggahi di suatu masa. Barangkali aku tahu dengan sangat baik mengapa manusia merupakan satu-satunya hewan yang tertawa: ia sendiri sesungguhnya teramat menderita, sehingga ia dipaksa untuk tertawa.***

===========

* Henry Lefebvre

** Roland Barthes

*** Friedrich Nietzsche

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s