Posted on

Logika Galau

Peringatan Penulis: entry ini tidak untuk dibaca, abaikan saja! Entry ini hanya sekedar ulah isenk: untuk nambah-nambahin posting

=============

Akhir-akhir ini banyak yang galau, entah kenapa. Istilah yang dulunya akrab di pikiran para posmodernis itu (kegalauan epistemologis, kegalauan identitas, etc) sekarang ada di mana-mana, entah kenapa juga. Dan istilah itu sekarang lebih sering digunakan untuk mengekspresikan masalah perasaan, entah kenapa, lagi…

Untuk gejala peradaban itu, teman gw pernah berkata:

Galau itu bisa dihindari—salah satunya—dengan cara menikah dengan orang yang kita cintai karena dengan begitu perasaan kita jadi tenang.

Cara lainnya—masih pendapat dari teman gw itu—adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan (untuk yang satu ini, ga akan gw bahas di entry ini).

Mungkin hal itu memang bisa—dan anggap saja bisa—mengusir kegalauan yang menghinggapi perasaan. Lalu masalahnya adalah: buat yang sudah ngebet pengen nikah, tapi belum punya pasangan atau calon, dan hampir selalu dalam keadaan galau, tentunya akan kesulitan untuk menghindari kegalauan tersebut. Lagipula, mencari pasangan itu—kata teman gw lagi—sulitnya minta ampun; ada dia yang kita suka, tapi dia belum tentu suka dengan kita. Ketika kita pada akhirnya memberanikan diri untuk nge-shoot the ultimate question (buat yang menolak aktivitas “pacaran” maupun yang tidak): “maukah kamu menikah denganku?” dan dijawab: “engg… gimana ya? Aku pikir-pikir dulu dech.” dan beberapa detik atau beberapa tahun kemudian dia menjawab: “Tidak!” rasanyaaa… yahh, gw ga tau, gw belum pernah mempunyai pengalaman perasaan kayak gitu, tapi menurut dugaan awal gw: pasti lumayan sakit.

Sebenarnya, gw ga terlalu akrab dengan “kegalauan” dalam konteks perasaan ini; gw memang belum punya pasangan, tapi gw ga terlalu memusingkan hal itu sekarang. Hanya saja, karena banyak orang-orang di sekitar gw yang galau, gw juga ikut-ikutan galau: gw jadi sering mikirin dia (Schrödinger’s cat!!!). (paragraf curcol: #abaikan)

Jadi intinya, kita harus mempunyai pasangan untuk menghilangkan sampah-sampah galau itu. Lalu kita bercermin dan berkata: “Apa yang salah dengan gw? Tampang gw udah lebih dari sekedar cukup untuk menghiasi cover majalah Kingdom Animalia. Eh, salah! Tampang gw udah lebih dari sekedar cukup untuk menghiasi cover majalah Gaul! Gw udah mapan secara finansial. Gw juga pintar, gokil, atau apapunlah hal-hal konyol dan tolol yang disukai orang-orang zaman sekarang. Tapi, kenapa ga ada yang mau jadi pasangan gw?” Tentunya, gw ga tahu kenapa hal tragis seperti itu bisa sampai terjadi. Dan hal ini membuat gw berpikir: gw mengambil buku, mulai dari buku resep-resep masakan, gramatika bahasa Prancis, hingga Advanced Abstract Algebra; dan akhirnya gw menemukan jawabannya.

Permasalahannya sebenarnya sangat sangat sangat sederhana. Bukan karena kita terlalu cool atau terlalu lame. Bukan juga karena kita mapan atau melarat. Serta bukan juga karena hal-hal konyol dan tolol lainnya yang melekat/dilekatkan pada diri (lupakan masalah-masalah konyol dan tolol itu, ga ada gunanya dibahas). Semua ini adalah masalah bahasa; begitu kira-kira kata Wittgenstein: bahwa orang yang kita sukai itu, bisa menyatakan “Tidak!” terhadap perasaan kita. Dengan begitu, ini semua jelas tidak ada kaitannya dengan tampang, kondisi sosio-ekonomi, etc. Ini semua justru tergantung dari pertanyaan yang kita ajukan kepada orang yang disukai tersebut: kita harus menanyakan pertanyaan, di mana, apa pun jawabannya, adalah berarti “Ya!”, tidak lain dan tidak bukan.

Pertanyaannya sekarang adalah: adakah pertanyaan yang jawabannya selalu berarti “Ya!”? Jawabannya: tentu saja ada. Dengan menggunakan Logika, kita bisa mengkonstruksi pertanyaan yang memenuhi kriteria seperti itu. Dan pertanyaan itu adalah:

Apakah jawaban bagi pertanyaan: “Maukah kamu menikah denganku?” sama seperti jawaban bagi pertanyaan ini?

Yup! Itulah pertanyaan yang harus diajukan. Kalimat tanya itu terdiri dari dua pertanyaan—jelas bahwa:

  1. Apakah jawaban bagi pertanyaan x sama seperti jawaban bagi pertanyaan ini? (1)
  2. Maukah kamu menikah denganku? (2)

Karena tipe kalimat tanya itu—keduanya—adalah yes/no-question (kalimat tanya yang jawabannya Ya atau Tidak), maka jawaban bagi masing-masing pertanyaan itu hanya Ya! atau Tidak! Dengan begitu, kita perlu meninjau dua kasus:

  1. Jika jawabannya adalah Tidak! Itu berarti, jawaban bagi pertanyaan (1) TIDAK SAMA dengan jawaban bagi pertanyaan (2). Dan karena jawaban bagi pertanyaan (1) adalah Tidak!, maka jawaban bagi pertanyaan (2) haruslah Ya! Dengan kata lain, jawaban bagi pertanyaan “Maukah kamu menikah denganku?” adalah “Ya!”
  2. Jika jawabannya adalah Ya! Silahkan dipahami sendiri. Yang pasti, jawaban bagi pertanyaan “Maukah kamu menikah denganku?” adalah juga “Ya!”

Jadi, begitulah. Masalah terselesaikan. (Q.E.D.)

=============

Ini namanya bukan “masalah yang sangat sangat sangat sederhana”, tapi “masalah yang terlalu terlalu terlalu disederhanakan”. Tentunya, kehidupan di planet Vulcan pastilah “sangat menyenangkan”.

#nowlistening Waltz of the Flowers, from “The Nutcracker” by Tchaikovsky.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s