Posted on

Dua Dunia

aahhh…” Amorf terbangun dari tidurnya sambil berteriak. “Gila! Gw mimpi serem!” Serunya sambil terengah-engah. “Rasanya ada sesuatu yang aneh di mimpi itu, tapi apa?” Amorf mencoba untuk mengingat mimpinya tadi: hasilnya nihil. Entah kenapa, mimpi selalu tidak bisa diingat secara utuh. “Ahh! Lupakan! Mimpi buruk gunanya bukan untuk diingat-ingat.” Katanya cuek dan bangun dari tempat tidurnya. Amorf pun berjalan ke arah jendela kamarnya dan mulai menikmati suasana. “Tengah malam yang cerah; gw senang bisa kembali melihatnya: bintang-bintang yang bergelantungan di langit, bulan yang pucat pasi karena takut dengan malam yang gelap, dan suara-suara insomnia yang menolak tidur dan menolak siang.” Amorf memandang lega ke sekelilingnya. Tapi, tiba-tiba, “Aahhh…!! Kadal bersyal!! Kenapa kadal itu memakai syal seperti vokalis Nidjong? Kenapa ukurannya segede rumah? Kenapa dia make sun-glasses? Bukankah sekarang seharusnya dia make moon-glasses atau star-glasses? Ga pentiiing!! Yang penting sekarang adalah berteriak aaahhh..!!”

Karena teriakan Amorf, binatang konyol itu lari dengan malas ke arahnya sambil menjulurkan lidah. Tanpa berpikir pendek, Amorf langsung lari menyelamatkan diri dari kamarnya sambil terus berpikir. Apa yang harus gw lakukan? Kalau gw bangunin orang-orang, mungkin gw akan dilahap oleh monster absurd itu, lagian, gw bakal ditampar karena membangunkan mereka yang tengah mimpi indah di tengah malam bolong ini. Amorf terus berlari sambil berpikir meskipun sekarang dia sudah berada di luar rumah kostnya. Akhirnya, Amorf berhasil menjauh dari monster itu dan bersembunyi di dalam sebuah kardus. Oke! Gw udah aman. Sekarang waktunya berpikir: logis selogis matematikawan. Aahh! Tidak, gw ga bisa berpikir seperti matematikawan di saat seperti ini. Cara berpikir mereka tidak menghasilkan apa pun yang bermanfaat dalam realitas. Gw harus berpikir seperti politikus guna mengakali monster itu. Amorf membatin tidak karuan. Yang bisa gw lakukan sekarang adalah keluar dari kardus ini dan melaporkan kejadian barusan ke pihak yang berwajib. Pikir Amorf.

Amorf pun keluar dari kardus. Aneh, sungguh aneh yang aneh. Amorf sekarang berada di antara reruntuhan. “Kenapa semuanya hancur? Pestanya udah kelar? Cepat banget!?” Amorf melihat sekeliling. “Aaahhh..!! Binatang goblog itu masih ada!” Amorf pun langsung ambil langkah seribu. Dia berlari sekencang yang bisa dilakukannya ke arah yang tidak diketahuinya tanpa melihat ke belakangnya. Ketika mencoba untuk curi-curi pandang ke arah belakang, Amorf tidak lagi melihat monster itu. “Ouw yeah…!! Gw berhasil! Gw selamat!” Amorf berkata girang sambil terus berlari-lari kecil. “Eh, tapi, gimana yang lainnya?” Amorf mendadak khawatir. “Ya Tuhan… Semoga mereka selamat. Semoga mere…” Blug!! Amorf terjatuh ke dalam sebuah lubang dan pingsan seketika.

Begitu terbangun, Amorf mendapati dirinya terbaring di atas sebuah kasur di dalam sebuah kamar yang ganjil: semua ornamen di kamar itu berbentuk lukisan dan patung yang menyerupai manusia-wortel. Di mana gw? Amorf membatin. “Aww!” Seru Amorf pelan. Dilihatnya kedua tangan dan kakinya berhias sedikit perban. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seekor kelinci dengan dandanan gotik memasuki kamar itu. “Oh my wortel!!” Amorf berteriak kaget.

Kelinci itu juga sedikit kaget karena teriakan Amorf dan langsung menenangkan suasana. “Tidak apa-apa. Kau aman sekarang.” Kata kelinci itu sambil tersenyum.

Amorf ternganga tidak percaya. Kelinci yang bisa bicara? Pikirnya. Amorf berusaha menenangkan diri. “Di mana saya sekarang? Apakah Anda adalah manusia yang memakai kostum kelinci?” Amorf berusaha berbicara setenang mungkin.

“Aku bukan manusia. Aku adalah kelinci sungguhan dari ras kelinci sungguhan. Lagipula, siapa yang mau menjadi manusia? Mereka menjalani kehidupan yang membosankan dan selalu mengeluh. Tidak ada makhluk selain manusia yang mau berakhir konyol menjadi seperti manusia.” Kelinci gotik itu berbicara dengan nada sinis. “By the way, kamu sekarang berada di kamarku. Istirahatlah; tidak enak memakan makanan yang sakit.” Kelinci itu berkata sambil berlalu dan meninggalkan ruangan.

Amorf kembali ternganga melihat kelinci itu meninggalkan kamar. Apakah yang barusan adalah special effect? Ga mungkin! Gw sekarang tidak berada di dalam film. Dan kenapa kelinci-gotik itu sinis banget kepada manusia? Gw kan manusia? Kenapa gw malah ditolongnya? Tiba-tiba, Amorf pun tertawa senang. “Ini pastilah mimpi dan gw sekarang sedang berada di dalam mimpi gw sendiri, sedangkan gw yang sebenarnya sedang tidur di kamar. Ya! Hanya itulah penjelasan yang paling masuk akal. Bahkan, dengan penjelasan yang paling tidak masuk akal pun, gw bisa menyimpulkan bahwa ini adalah mimpi. Haha…” Kata Amorf cengengesan. “Tapi, apa maksudnya ‘makanan yang sakit’?” Amorf bingung. “Meneketehe, ah! Emangnye gw pikirin!” Amorf pun bangun dan melihat-lihat sekeliling. “Gw pasti sudah gila atau mungkin terlalu normal; bisa-bisanya gw memimpiin keadaan kayak gini: lukisan berjudul Self Portrait by Vincent Van Gogh, tapi lukisannya bergambar manusia-wortel? Hahahaha…!” Amorf kembali cengengesan. Dan tiba-tiba, entah “tiba-tiba” yang ke berapa, Amorf kembali terkejut melihat dirinya di dalam cermin. “Gw berbentuk manusia-wortel? Goblog! Go blog! Seharusnya gw berhenti nge-blog! Aahh! Mimpi macam apa ini? Emang masih belum cukup ya? Di dunia nyata gw udah jelek, dan di sini, dalam mimpi sendiri, gw malah jadi manusia-wortel! Bahkan Alice pun ga menjadi cewek-wortel ketika di Wonderland!” Amorf hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan dia pun terpikir lagi dengan ucapan si kelinci-gotik. “Gw kan wortel!? Dan si kelinci bilang kalau makanan yang sakit ga enak dimakan. Itu berarti…” Amorf mendadak gelisah, tapi berusaha untuk tetap tenang. “Oke! Gapapa! Ini kan mimpi. Kalau pun gw di makan, ya gapapa. Tapi kan ga enak kalau dimakan meskipun dalam mimpi?! Lagian, pasti sakit banget rasanya direbus atau digoreng. Eh, emangnya kelinci di sini mengenal teknik menggoreng atau merebus? Teknik itu kan terlalu advanced buat mereka… Aahh! Ngapain juga hal itu dipikirin!” Amorf membatin, Gw harus kabur dari sini! Dan Amorf pun kabur dari jendela. Kali ini dia berlari dengan susah payah dengan kakinya yang kecil. Setelah berlari cukup lama, Amorf menyadari keadaan di sekelilingnya; ternyata lebih ganjil dari perkiraannya, tapi anehnya, juga terasa familiar. Dia berada di dalam dunia sebagaimana Van Gogh melihat dunia: sebagaimana dunia dalam lukisan-lukisan Van Gogh. Ada sepasang sepatu lusuh tergeletak begitu saja. Ada beberapa wanita-wortel jelek yang sedang berjalan kesulitan karena mengangkut beban. Dan ada semak-semak yang entah semak-semak entah bukan. “Wow!!” Teriak Amorf kagum yang lalu mengernyitkan dahi. “Kenapa gw ga mimpiin berada di dunianya M. C. Escher, ya? Di sana kan lebih menarik!?”

Dalam keadaan terkagum-kagum itu, Amorf mendengar suara langkah dan suara batuk-batuk aneh di belakangnya yang mendekat ke arahnya. Manusia? Akhirnya… Pikir Amorf. Ketika melihat ke arah datangnya suara itu, Amorf kembali kaget, entah kaget yang ke berapa. Seekor macan tutul yang mengenakan jas panjang dengan motif loreng berjalan dengan gagah ke arahnya sambil menghisap rokok yang dipegang oleh ekornya yang panjang. Saat hendak lari, Amorf tersandung, lalu terjatuh, dan berteriak, “Waaa!! Jangan makan gw. Ayoo!! Bangun!! Awww!!” Amorf menonjok matanya sendiri agar terbangun. Tapi tidak, dia masih berada di sana.

“Nyantai cuy! Gw ga bakalan memakan lu! Gw bukan vegetarian! Uhuk.. Uhuak!!” Bentak si macan tutul dengan suaranya yang melengking sambil terbatuk-batuk dan memuntahkan asap rokok.

“Oh ya…? Eh, gw kan wortel! Hahahaha…” Kata Amorf kecut.

“Ya! Gw ga bakalan memakan lu!”

Amorf pun bangkit dari jatuhnya. “Aww.. Aww..!” Serunya sambil meraba-raba sekitar matanya.

“Kenapa lu ‘Aww aww!’? Kayak kucing lagi horny?” Tanya macan tutul dengan nada mengejek.

“Ah, gapapa. Mata gw kelilipan tinju gw barusan.” Balas Amorf sambil berusaha menahan sakitnya.

“Gimana rasanya? Enak? Mau nyobain gimana rasanya kelilipan cakar gw?” Tanya macan tutul serius.

“Hah!? Kalau rasanya seenak soto Betawi, gw mau.” Amorf berkata dengan nada sepertiga bercanda, sepertiga senang, seperenam sinis, dan seperenam kesakitan.

“Soto Betawi? Adanya soto Mordor.” Kata macan tutul cuek.

“Ga usah deh. Thanks…” Amorf masih merasa kesakitan. “Kenapa gw ga bangun juga ya? Padahal kelilipan tinju barusan rasanya sakit banget.” Amorf berkata ke dirinya sendiri.

“Oh ya, nama lu siapa?” Tanya macan tutul setidakformal mungkin.

“Nama gw Amorf.” Jawab Amorf singkat.

“Heh..! Nama lu kedengaran tolol banget. Nama gw Trollolol, panggil saja Lol atau Marco.” Lol berkata dengan bangga, sedangkan Amorf mengernyitkan dahi. “Betewe, kenapa tangan dan kaki lu diperban? Lu mau ke pesta kostum? Butuh tumpangan?”

Mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Lol, Amorf menjadi terdiam. Dia seolah tidak tahu lagi siapa dirinya dan dia juga tidak tahu di mana dia berada meskipun dia masih yakin bahwa dia adalah dia yang menjadi manusia-wortel dan di sini adalah mimpinya sendiri. Hanya saja, keyakinan akan mimpi itu sedikit goyah karena dia masih saja merasakan sakit di matanya yang diakibatkan oleh tinjunya sendiri; rasa sakit yang seharusnya membuatnya terbangun.

“Oy!! Meskipun ga punya kuping, lu ga budeg, kan?” Kata Lol membentak Amorf.

“Eh?” Bukannya kaget karena teriakan melengking itu, Amorf malah merasa absurd. Dia mencoba meraba daerah di sekitar telinganya, tapi dia tidak menemukan telinganya, tidak satu pun. “Jadi, bagaimana manusia-wortel bisa mendengar jika ga punya telinga? Gimana dengan tokoh-tokoh dongeng lainnya?” Tanyanya heran, entah pertanyaan itu untuk dinikmatinya sendiri atau ditujukan kepada Lol.

“Jangan disamain dengan dongeng, lah cuy. Kalau di dongeng, semuanya mungkin. Tapi, di sini ada yang ga mungkin. Lu bisa mendengar karena lu bisa mendengar, entah lu punya kuping atau nggak. Kalau lu ga bisa mendengar, yaa lu ga bisa mendengar. Lagian, jika manusia-wortel kayak lu dikasih kuping, bentuk lu pasti jadi jelek banget.” Lol menjawab enteng dan melanjutkan, “trus, kalau lu bisa mendengar, seharusnya lu menjawab pertanyaan gw tadi.”

“Oh ya,” Amorf buru-buru menjawab Lol dan tidak memikirkan lagi telinganya, “tadi gw terjatuh, trus ada yang nolongin, dan gw sebenarnya mau mencari manusia.” Amorf berkata cepat. Dia merasa begitu ingin melihat manusia: apakah mereka ada? Amorf menjadi penasaran. “Kalau lu tahu di mana mereka, tolong antar gw ke sana.”

“Manusia? Ada perlu apa lu dengan makhluk-makhluk aneh itu?” Nada bicara Lol yang tadinya biasa-biasa saja, mendadak berubah menjadi sinis.

Mendengar nada bicara Lol barusan dan juga si kelinci-gotik, membuat Amorf berpikir tentang padangan para penghuni dunia Van Gogh ini terhadap manusia. Ada apa dengan manusia di dunia ini? Kenapa mereka berkata seperti itu dengan nada seperti itu? Apakah mereka, para manusia, telah sedemikian rusak, lebih rusak daripada yang ditemuinya di dunia nyata? Serusak apa? Apakah di dunia yang diisi oleh binatang-binatang absurd ini ada yang namanya “manusia jalang” dalam konsep kehidupan para binatang sebagaimana adanya “binatang jalang” pada konsep kehidupan manusia? Amorf menyadari bahwa dia perlu berhati-hati untuk bertanya dan berbicara tentang manusia. Dia pun berusaha agar terkesan bahwa dirinya bukanlah manusia, tapi sejenis manusia-wortel.

“Gw hanya ingin tahu manusia itu seperti apa dan bagaimana bentuk mereka. Gw juga penasaran kenapa gw tidak disebut wortel, melainkan manusia-wortel” Amorf menjawab seadanya.

“Oke, baiklah. Gw akan mengantar lu ke tempat mereka. Naiklah ke punggung gw.” Kata Lol tiba-tiba ramah: ada sesuatu yang disembunyikannya. “Gw akan menceritakan sejauh yang gw tahu tentang manusia kepada lu dalam perjalanan. Betewe, kenapa makhluk seperti lu disebut manusia-wortel adalah karena lu mirip dengan makhluk bernama manusia.”

“Yeay! Thanks, Lol.” Amorf menjawab senang dan dia pun menaiki punggung Lol. “Betewe, manusia-manusia itu ada di mana?” Tanya Amorf penasaran setelah duduk di punggung Lol.

Lol menunjuk ke arah sebuah gunung di hadapannya, “Lu lihat gunung yang berwarna keabu-abuan itu? Di sanalah mereka tinggal: Gunung Simulakra.”

Dan perjalanan pun  dimulai. “Makhluk bernama manusia, dulunya, adalah makhluk yang beradab: mereka mempunyai peradaban yang maju. Hal ini terutama karena sebagian kecil di antara mereka adalah pemalas-pemalas-yang-cerdas…”

“Pemalas-pemalas-yang-cerdas?” Amorf mendadak bertanya dan memotong ucapan Lol. “Apakah peradaban manusia maju karena adanya mereka?”

“Ya! Tentu saja.” Jawab Lol yakin. “Para pemalas-yang-cerdas adalah mereka yang malas dan menyukai kemudahan. Dengan kekuatan cerdas yang mereka miliki, mereka mentransformasikan pengetahuan yang telah diperoleh oleh jenis manusia lainnya menjadi alat-alat praktis sehingga segala sesuatunya menjadi lebih mudah…”

“Tunggu bentar. Tadi lu bilang ‘jenis manusia lainnya’, siapa mereka?” Amorf kembali memotong ucapan Lol dan menimpalinya dengan pertanyaan.

“Yang gw maksud dengan ‘jenis manusia lainnya’ adalah filsuf, ilmuan, dan seniman. Filsuf adalah manusia yang menciptakan pengetahuan dari kehidupan sehari-hari. Ilmuan adalah manusia yang menciptakan pengetahuan dari perilaku alam dan makhluk hidup. Sedangkan seniman adalah manusia yang menciptakan pengetahuan dari pengalaman estetis. Ketiga jenis manusia itu berusaha menciptakan pengetahuan untuk satu tujuan mulia: untuk menjawab pertanyaan, ‘apa makna ada-nya kita di dunia ini?’ Di samping itu, semua jenis pengetahuan ini dirangkum dan dengan kekuatan kecerdasan, semua yang terangkum itu ditransformasikan oleh para pemalas-yang-cerdas menjadi sesuatu yang mereka sebut ‘teknologi’. Pada awalnya, para pemalas-yang-cerdas dan teknologi-teknologi yang mereka hasilkan pun memiliki tujuan yang mulia, sama seperti yang lainnya, tapi…” Lol terdiam.

“Tapi kenapa?” Amorf bertanya penasaran. “Dan juga, bukankah selain jenis-jenis manusia yang lu sebutkan tadi, masih ada jenis-jenis manusia lainnya?”

“Ya, memang ada.” Lol akhirnya kembali bersuara. “Ada banyak jenis manusia lainnya, tapi mereka tidak memberi dampak yang signifikan pada peradaban manusia, kita abaikan saja, kecuali satu di antaranya.”

“Siapa mereka?”

“Mereka adalah para pengkhotbah. Mereka adalah orang-orang yang mempercayai sejenis pengetahuan yang berasal dari dunia lain: dunia kehidupan-setelah-kehidupan, dan mereka menyampaikan pengetahuan itu untuk menyelamatkan manusia. Mereka adalah satu-satunya jenis manusia yang mengklaim telah menjawab pertanyaan, ‘apa makna ada-nya kita di dunia ini’. Sayangnya, pengetahuan yang mereka sampaikan, disalah-mengerti oleh sebagian yang lain dan hal itu mengakibatkan terjadinya krisis dalam kehidupan manusia, sehingga mereka pun, para pengkhotbah itu, tidak mendapat tempat lagi di zaman manusia-sekarang dan keberadaan mereka pun tidak diketahui lagi. Dan setahu gw, pengetahuan yang mereka sampaikan, hanya bersemayam dalam diri masing-masing manusia dengan diliputi keragua-raguan dan sebagian manusia lainnya tidak lagi mempercayai pengetahuan seperti itu.” Lol kembali terdiam.

Amorf menyadari bahwa keadaan manusia di dunia ini mirip dengan kehidupan manusia di dunia nyata. Saat ini, di dunia nyata, pengetahuan yang datang dari dunia kehidupan-setelah-kehidupan atau apa yang biasa disebutnya sebagai agama, telah tereduksi menjadi pengetahuan-pengetahuan tentang hal-hal yang hanya bersifat ritualistik belaka; yang entah dipraktekkan entah tidak, tidak begitu terasa manfaatnya dalam kehidupan. Amorf kembali bertanya, “Lalu, apa yang terjadi dengan manusia.”

“Sebenarnya, gw kurang begitu tahu apa yang terjadi,” Lol berkata ragu-ragu, “tapi kurang-lebihnya seperti ini: manusia kembali melakukan kesalahpahaman terhadap pengetahuan dan teknologi yang telah mereka ciptakan; bahwa pengetahuan dan teknologi yang pada awalnya dirancang untuk menjawab pertanyaan ‘apa makna ada-nya kita di dunia ini,’ pada akhirnya hanya digunakan untuk menikmati kesenangan belaka. Manusia seolah lupa dengan tujuan mulia dari pengetahuan dan teknologi yang telah mereka ciptakan. Dengan begitu, sumber kesenangan manusia pun bergeser: kesenangan yang dulunya berasal dari sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri, sekarang digantikan oleh kesenangan yang berasal dari benda-benda yang dihasilkan oleh pengetahuan dan teknologi. Tapi, seperti yang kita ketahui, sumber daya untuk menciptakan kesenangan itu, yang berasal dari luar diri manusia, adalah sumber daya yang terbatas, sehingga hubungan sesama manusia pun tereduksi menjadi hubungan-hubungan yang didasarkan oleh kepentingan-kepentingan dan bersifat transaksional. Dunia manusia di zaman manusia-sekarang tidak lagi mengenal hubungan yang tidak didasari oleh kepentingan dan bersifat non-transaksional: mereka tidak lagi mengenal hubungan ‘kerabat’ dan hubungan ‘sahabat’.”

Amorf menjadi termenung dan juga merasa terpukul mendengar penuturan Lol. Apakah manusia tidak semakin memanusia dengan majunya peradaban mereka? Batinnya dalam hati.

“Pada akhirnya,” Lol melanjutkan kata-katanya yang sempat terhenti sebentar, “mereka melupakan pertanyaan ‘apa makna ada-nya kita di dunia ini,’ terjebak dalam kesenangan, hingga akhirnya semua manusia menjadi sakit dan peradaban mereka menciptakan banyak kontradiksi di dalamnya.”

“Mereka sakit apa? Kontradiksi apa?” Amorf menjadi sangat penasaran.

“Karena kelupaan mereka akan makna, mereka tidak tahu lagi harus melakukan apa di dunia ini, kecuali bersenang-senang. Dengan begitu, semua yang telah dihasilkan oleh pengetahuan dan teknologi, ditransformasikan untuk mengejar hal-hal yang bersifat menyenangkan. Pada akhirnya, manusia tidak bisa lagi hidup tanpa kesenangan dari benda-benda; mereka harus memiliki benda-benda untuk menikmati kesenangan. Keadaan ini menciptakan dua jenis penyakit: jika mereka tidak berhasil memperoleh kesenangan dari benda-benda, mereka akan mendapatkan sakit: ‘bellyaching’, sedangkan jika kesenangan yang diperoleh dari benda-benda berhasil didapatkan, mereka akan tertimpa penyakit: ‘boring’. Selain itu, mereka juga menciptakan kesenangan-kesenangan yang bisa dinikmati bersama: ‘tontonan’. Keadaan-keadaan inilah yang menciptakan kontradiksi dalam peradaban manusia: manusia lebih menghargai benda-benda untuk kesenangannya daripada benda-benda untuk mempertahankan hidupnya, dan manusia lebih menghargai sesuatu yang bisa ditonton dan menghibur daripada sesuatu yang berguna untuk kelangsungan hidupnya, yang dalam bentuk konkritnya kira-kira seperti ini: bahwa mereka yang mempertontonkan sesuatu dan menghibur, dihargai jauh lebih tinggi daripada mereka yang berusaha untuk mencari makna; mereka yang kerjanya menendang bola dan bisa membuat manusia lainnya menangis, dihargai jauh lebih tinggi daripada filsuf, ilmuan, atau seniman.”

“Begitukah keadaan manusia di zaman manusia-sekarang?” Amorf bersuara lagi. Dia merasa bahwa begitulah kehidupan di dunianya, di dunia nyata. Dia merasa kehidupan di dunianya begitu tragis sekaligus aneh, tapi baru kali ini dia merasa seperti itu. Dia telah terlalu terbiasa menikmati kehidupannya tanpa memikirkannya.

“Tidak, peradaban manusia di zaman manusia-sekarang jauh lebih tidak bermakna daripada peradaban manusia seperti yang gw ceritakan barusan.”

“Oh ya?” Amorf tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Kenapa lu terdengar sangat kaget? Memangnya ga ada yang memberitahu lu tentang peradaban manusia?” Lol membalas kekagetan Amorf.

“Yaa… ga ada yang memberi tahu, dan karena itulah gw penasaran.” Amorf menjawab dengan tenang.

“Oke. Begini, kontradiksi yang gw sebutkan tadi, mereduksi jumlah filsuf, ilmuan, seniman, dan jenis manusia lainnya. Semua manusia pada akhirnya sama: sama-sama melupakan makna dan terpenjara dalam keinginan sepenuhnya untuk bersenang-senang. Pada akhirnya, mereka menjalani kehidupan hampa makna dan hanya melakukan satu hal, dan itulah peradaban mereka sekarang.”

“Memangnya bagaimana keadaan mereka sekarang?”

“Lihat saja sendiri, kita sudah sampai.”

Sesampainya mereka di sana, di kaki gunung Simulakra, Amorf kaget melihat keadaan di sekelilingnya. Dunia tidak lagi berwarna-warni seperti pada dunia Van Gogh. Di sana hanya ada tiga warna: hitam, putih, dan abu-abu. Selain itu, keadaan di sana juga mengenaskan: tandus, kering, dan panas. Dan yang ada di sana hanyalah gunung Simulakra yang gundul dan tidak memiliki tanaman, sebuah danau bernama danau Lust, di mana manusia yang haus, meminum langsung air dari danau itu dan airnya adalah energy drink, serta sebuah pohon bernama pohon Kebahagiaan, yang buahnya adalah koin emas dan daunnya adalah uang kertas, dan manusia yang kelaparan, memakan langsung akar yang selalu tumbuh dari pohon itu. Selain kaget, Amorf juga merasakan keganjilan: kenapa manusia berperilaku seperti itu?

“Apa yang sebenarnya mereka lakukan?” Amorf akhirnya bersuara setelah puas merasa kaget dan menikmati keganjilan.

“Seperti yang lu lihat sendiri…” Lol kedengaran tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Amorf dan berkata dengan malas.

“Ya! Mereka melakukan hal seperti itu, tapi kenapa mereka melakukannya?”

“Jika gw adalah salah satu di antara manusia-manusia itu, maka gw sama sekali tidak tahu kenapa gw melakukan hal itu, dan jika gw tahu kenapa gw melakukan hal itu, maka, tentunya, gw tidak akan menjadi salah satu di antara manusia-manusia itu.” Lol menjawab dengan nada serius. “Dan sebagai macan tutul yang gagah, gw hanya bisa menjawab: begitulah cara mereka hidup.”

Setelah mendengar jawaban Lol barusan, Amorf kembali merasakan keganjilan. Sekarang dia tahu kenapa Lol dan si kelinci-gotik tidak begitu menyukai manusia, dan dia juga tahu bahwa beginilah kehidupan manusia yang, sebagaimana dikatakan Lol, hampa makna: setiap manusia mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung Simulakra untuk kemudian digelindingkan lagi ke bawah, dan ketika batu itu sudah sampai dan berhenti di kaki gunung, batu itu didorong lagi ke puncak gunung untuk digelindingkan lagi ke bawah, dan begitu seterusnya. Seperti kata Lol: jika gw tahu kenapa gw melakukan hal itu, tentunya gw ga akan menjadi salah satu di antara manusia-manusia itu.

Amorf kembali bertanya kepada Lol, “Tidak adakah yang mau memberitahukan kepada mereka betapa tidak bermaknanya kehidupan mereka?”

“Percuma,” jawab Lol sambil menggelengkan kepalanya, “mereka tidak mau berbicara dan tidak mau mendengarkan makhluk lainnya. Dan mereka juga tidak mau lagi mengambil pelajaran dari kita.”

Amorf merasa sedih mendengar jawaban Lol. Apakah mereka sudah menjadi serusak itu? Baiklah, gw akan mencoba membangunkan mereka, karena gw, pada dasarnya, adalah juga manusia. Pikir Amorf. Dan dia pun mulai berlari ke arah kaki gunung Simulakra.

“Oy! Mau ngapain lu?” Teriak Lol.

Amorf berjalan mundur perlahan sambil berteriak ke arah Lol, “Gw mau…”

Belum sempat Amorf menyelesaikan kalimatnya, Lol sudah berteriak ke arahnya, “Amoorrf, awaaass…!!!”

Amorf kaget mendengar teriakan Lol dan langsung memalingkan wajahnya ke arah gunung Simulakra. Pada saat yang sama, sebuah batu besar menggelinding tepat ke arahnya dengan cepat. Amorf tidak sempat menghindari batu itu dan hanya bisa berteriak, “Aaaa

=============

Dari sebuah Antologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s