Posted on

Catatan Hibernasi (Yang Kesekian…)

Setelah tidak Go Blog selama beberapa minggu belakangan, akhirnya gue Go Blog lagi. Banyak yang terjadi selama beberapa minggu belakangan, tapi yang paling penting adalah gue mendapat banyak pencerahan; entah kenapa, cuaca hampir selalu cerah siang malam, padahal gue lebih suka hujan. Karena mendapat pencerahan, cara pandang gue terhadap kehidupan jadi sedikit berubah: gue jadi lebih optimis dalam memandangnya dan kesinisan juga telah sedikit berkurang. Atau, dengan kata lain: jadi lebih normal, senormal manusia lain pada umumnya. Dan kenyataannya, gue merasa sangat normal, teramat sangat normal; teramat sangat waras. Dan karena mendapat pencerahan juga, gue merasa bahwa inilah hidup yang sesungguhnya: hidup yang sangat normal dan waras.

Kata orang hidup normal dan waras itu menjemukan dan membosankan. Kata siapa? Orang? Siapa orangnya? Kenyataannya gue dibawa ke tempat-tempat tak terduga: mulai dari palung terdangkal hingga gunung terendah, dari jurang terlandai hingga tebing yang paling datar, dari ruang seribu cermin yang tidak memantulkan bayangan hingga pintu yang tak beruang, dan dari alam pikiran yang tak berisi apa pun hingga dunia jiwa yang begitu tenang dengan peperangan. Dan orang-orang di zaman sekarang berlomba-lomba untuk keluar dari mainstream: kewarasan dan kenormalan, melangkah menuju keabnormalan dan mencoba melekatkan label “gila” ke diri sendiri. Siapa yang mainstream sekarang? ß pertanyaan ga penting.

Tentunya, seperti yang sering dikatakan orang-orang, “hidup itu harus direnungkan juga,” maka gue juga mulai coba-coba pake otak beberapa minggu belakangan—sudah lama gue ga pake otak. Tapi, kita semua tahu hal itu sangat sulit, bahkan untuk memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat sekalipun. Hanya saja, gue paksain juga, mumpung lagi dapat pencerahan. Gue merenung: kenapa gue merenung? Pentingkah? Pentingkah mendengarkan dan mengerjakan perkataan orang lain yang untuk mengerjakannya kita harus bergumul dengan segala sesuatu yang serba abstrak dalam dunia yang juga abstrak? Gue merenung lagi: kenapa gue merenung lagi? Dan ternyata merenung itu asik, bikin ketagihan, dan membuat mabuk kepayang. Begitulah; pencerahan datang siang malam ga kenal lelah dan gue merenung juga siang malam ga kenal tobat: mulai dari hal-hal penting, hingga hal-hal yang gue ga tau apakah hal itu penting atau tidak:

  • Kenapa orang-orang merenung dan kenapa pula tidak merenung?
  • Kenapa gue menulis ini dan mem-publish-nya di sini? Ingin narsis? Ingin exist? Mungkin juga gue ikut terkena sejenis sindrom yang akhir-akhir ini menggejala di dunia maya: sindrom pengen posting, entah penting entah tidak.
  • Di bulan puasa, gue jarang merenung karena sibuk melakukan ini itu—pokoknya ga merenung. Dan karena pencerahan datang, gue juga menyibukkan diri untuk bermenung di bulan puasa. Dan selama ini, yang gue tahu, bulan puasa itu gunanya—beberapa di antaranya—adalah: (1) untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya, (2) melatih diri agar siap menghadapi sebelas bulan ke depan, dan (3) ikut merasakan penderitaan fakir miskin dan yang berpuasa pun diwajibkan membayar zakat fitrah di akhir bulan. Sungguh mulia. Tujuan (1) dan (2) cukup berhasil, tapi tujuan (3)? Gue jadi mabok sempoyongan ketika merenungkannya. Yang berpuasa menunggu-nunggu untuk makan ta’jil; tempat-tempat yang menjual ta’jil diburu pembeli dan harganya pun ga murah. Gue jadi mikir: apakah mereka yang membeli ta’jil itu benar-benar mencoba merasakan menjadi fakir miskin? Atau hanya sekedar beribadah?
  • Kenapa kalau orang kaya sakit, mereka harus berobat dengan biaya mahal bahkan harus ke luar negeri, sedangkan kalau orang miskin yang sakit, mereka hanya membeli obat di warung atau pergi ke puskesmas? Apakah karena orang kaya sangat rentan terserang penyakit karena tubuh mereka terbiasa dengan yang bersih-bersih? Kalau begitu, kenapa tidak disimpan saja uangnya dan lalu mencoba hidup layaknya orang miskin? Bukankah dengan begitu biaya hidup jadi jauh lebih murah?
  • Beberapa minggu yang lalu, di ibukota sedang berlangsung pilkada. Gue juga sibuk banget memikirkan yang begituan: kenapa gue jadi mikirin pilkada DKI, padahal gue bukan orang DKI dan ga punya hak pilih?
  • Adakah hewan yang hidup di air yang tidak bisa berenang?
  • Bisakah kita bersin sambil tertawa atau tertawa sambil bersin? Bagaimana mekanisme ini, jika memang memungkinkan, dijelaskan secara biologis?

Dan masih banyak lagi yang gue renungkan beberapa minggu belakangan. Dan, ya, gue merasa sangat normal dan waras; memang begitulah seharusnya.

Tulisan ini jadi mirip laporan pertanggungjawaban: laporan pertanggungjawaban kenapa selama ini gue ga posting. Benarkah? Padahal ini catatan hibernasi ke-sekian. Berarti tulisan ini, memang, hanya buat iseng doank, iseng pengen exist lagi dan bingung mau nulis apa sehingga inilah yang gue tulis. Terserahlah…

4 responses to “Catatan Hibernasi (Yang Kesekian…)

  1. daicyzara

    assalamualaikum,

    haha, notesnya top deh, buat merenung tapi juga bikin ngakak :d

    mahia disini..
    asiiikk, kakak ngeblog lagi..

    eh kak, multiply khan digusur..
    jadi mahia punya rumah baru lagi.
    berkunjung yaaa..:)

    di mahiazara.wordpress.com

    • jacknhelena ⋅

      ‘Alaikumsalam…

      Pencerahan datang dalam bentuk yg tidak diduga-duga atau mungkin saya yg agak salah memahaminya :p

      Mahia, hati-hati “di sini” xD

      Btw, blognya udah lama ya??

      • daicyzara

        😛

        hati-hati kenapa? banyak duri kah? hehe..

        blog yang mana nih? mahiazara ya? nggak kok, itu baru banget, baru bikin kak.. hasil import tulisan di multiply.. inget gak, pas kemarin mahia sms kakak? naaah, itu mau ngasi tau kalo multiply mau bubaran, dan jadi e-commerce web.. makanya aku sama teman-teman pada pindahan kak..

        kakak kok jarang nulis lagi? *sotoy

      • jacknhelena ⋅

        Maksudnya, hati-hati di bagian “pencerahan”; kalo pencerahannya ngaco, jangan diikuti cahayanya, ;p

        Mengenai yg di Multiply, saya ga bisa buka ‘cos passwordnya hilang, password emailnya juga -_-”

        Iya, sekarang jarang nulis, banyak buku yang mau dibaca; sebagai orang Indonesia tulen, kegiatan ini benar2 menyiksa xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s