Posted on

Tidak Di Sini

Kulihat sesuatu yang menarik di bawah sana; apakah kau mau ikut? Ya, kau ikut. Mari kita tinggalkan permukaan ini sejenak. Nyaris tidak ada apa-apa di sini. Di kedalaman itu, kan kita temukan sesuatu yang menarik. Kau juga berpikir begitu, kan? Entahlah, aku tidak tahu. Tapi di sini, dengan segala kegandrungan massal ini, dengan segala perilaku ikut-ikutan ini: aku sudah muak. Seperti yang kukatakan, “Nyaris tidak ada apa-apa, bagiku, di sini.” Tapi, yang menarik yang seperti apakah yang ada di bawah sana itu? Mencari kehampaan untuk kemudian mengisinya? Atau mengosongkan yang penuh sesak dengan kehampaan? Mari kita menjamah jagat makna.

Aku tidak tahu. Mungkin segala sesuatunya ada di sana. Bukankah itu membosankan? Dan, jika tidak ada apa-apa di sana, tidakkah hal itu juga sama membosankan? Tapi tidak ada juga gunanya di sini. Aku akan ke sana. Akan kubongkar gundukan realitas. Akan kugali terowongan ide. Akan kulewati labirin perasaan. Lalu kita mulai meracau gila. Memangnya kenapa? Tiada sesiapa di sini. Apakah mereka mendengar? Apakah mereka peduli? Yang mereka katakan hanyalah, “Hahaha…”. Kadang aku harus peduli dengan ketidakpedulianku. Hanya mereka yang tidak tahu yang mengetahui kata-kata bijak itu bijak karena tidak selamanya kata-kata bijak itu bijak. Mereka tidak tahu apa pun tentang kita di sini.

Ya! Kesanalah aku akan pergi: menggali dan terus menggali sampai kutemukan apa yang kucari hingga ke batas-batas karuniaNya yang ada untuk disyukuri. Apa gunanya di sini; tempat yang penuh sesak dengan kedangkalan ini.

Dan kau pergi, kau benar-benar pergi. Kau gali lubang-lubang waktu di relung-relung sejarah. Dari bangkai-bangkai ide yang mati tenggelam hingga pijar-pijar kebenaran yang menembus zaman, di mana semua berujung? Lima ribu tahun sudah semua berlalu, tapi apa yang bermakna di sini? Kita sendiri dan selalu sendiri; kita bermain di belantara kemungkinan; kita bergentayangan di alam mimpi. Tidak! Tidak ada apa-apa. Yang terus ada dan mewujud hanyalah kehampaan yang diberi nama: benda-benda itu, tanda dan tanda itu, lakumu yang tidak satu ilmu pun bisa mengerti akan arti hadir ke-di-sini-anmu.

Pencarian hanya berujung di pencarian lainnya. Lorong kehidupan yang kau gali tiada menemukan kebuntuan tapi tidak juga dahaga pencarianmu terpuaskan. Yang ada hanyalah kunci dan kunci; yang membawamu ke ruang sejuta cermin diri, ke ruang seribu tempat menanti, hingga ke ruang hati tempat takluknya  diri. mereka membawamu ke belantara gelap yang dalam. Di sana, kau tinggal sendiri, menyelami segala bisik-bisik timbul-tenggelamnya makna, tempat karamnya rasiomu menggapai cahaya. Masih tidakkah kau menemukannya?

Lalu kita pergi, ke tempat-tempat yang ingin kita kunjungi, ke barat sana dimana dunia baru menghampar. Dunia khayal berjatuhan untuk kemudian melambung tinggi. Tiada lagi ke kehampaan yang meruang, tiada lagi kelap gulita tak bertepi. Lorong-lorong yang telah tergali, runtuh seketika, menjadi debu bagi dunia lama. “Di sinikah?” Begitu ku terpana. Tiada apa pun, tapi kesenangan menjalari. Benda-benda berjatuhan ke tempat-tempat tertinggi, mimpi-mimpi mengapung di sejuk udara pagi. Aku bermimpi, tapi aku tidak ingin pergi. Di sini, di sana, adalah tidak dimana pun. Kenapa harus lari? Tidak ada seorang pun yang pernah di sini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s