Posted on

Di Bawah Hujan

Saling menyapa, tentang kabar langit yang hendak menangis. Keberadaan pengganggu yang lain membuat mereka miris. Tapi, kemurnian yang memberi sebab bagi kehidupan, tiada bisa mereka acuh atau tahan.

“Mereka mulai berjatuhan, Papa.” Dan mereka menikmatinya: terdiam di bawah sana tanpa suara. Apalah arti bagi mereka yang membasah kening, tiada terkurang nikmat yang terasa. Bagi lahan-lahan yang hening, bagi hati-hati yang bening; sedih dan bahagia bergantian menyapa.

Siapa yang tahu; air mengalir di pipi mereka. Antara sedih dan bahagia mereka memberi makna. Terus dan terus mereka mengalir di bawah sana sampai di jembatan yang bermandi cahaya. Apakah semua masih ber-ada atau terlupa? Mereka merindu segala rasa.

Jatuh dan terus berjatuhan, menghibur bentuk-bentuk kesedihan, menghias rupa-rupa bahagia; yang bersemayam di dalam yang fana. Apakah masih bermakna ketiadaan mereka? Sesaat semua bungkam menyusun kata: “Aku merasakannya.”

“Kurasakan kesejukan, Papa.” Tapi tidak mereka tahu arti pentingnya. Berlalu dan hanya berlalu, jangan berhenti biar gemuruh. Kesejukan membasuh yang menyesakkan lalu membanjiri hampa. Dan kemana harus pergi? Adakah yang pernah di sana? Mereka bernyanyi dan terus bernyanyi sambil terbawa arus niscaya.

Apakah kau masih memendam segala rasa itu? Bukankah kau senang jika mereka datangimu? Mata mungil itu, menjelajah angkasa tanpa sempat berkata. Mereka, juga, merindukan segala rasa, karena hanya ketiadaan di ujung sana. Biar mereka memeluk pipimu, memberi makna antara sedih dan bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s