Posted on

Curhat (Bagian 3)

Beberapa hari belakangan, sama seperti orang Indonesia pada umumnya, gue sibuk bersilaturahimi: dengan kerabat, teman, hingga orang entah siapa. Dan seperti kata orang, silaturahmi itu mendatangkan banyak berkah, anugrah, etc, gue pun ikut mencicipinya—walaupun memang, sedikit sulit untuk berhadapan dengan situasi yang serba canggung ini.

Tanpa bisa mengelak, pertanyaan-pertanyaan setajam silet berhamburan menyayat telinga, membuat situasi makin runyam, seolah hipotesis Riemann belumlah apa-apa. Entah hanya sekedar berbasa-basi atau tidak adanya tema lain yang bisa dibicarakan ketika berhari raya (padahal banyak banget: kita bisa diskusi tentang matematika, Star Wars, gramatika bahasa Prancis, bagaimana perasaan Amelia Pond terhadap The Doctor, apa kriteria waras-nya seseorang di zaman sekarang, etc), nyaris semua orang membicarakan yang itu-itu saja—dimulai dengan sedikit pendahuluan yang…

“Kamu sudah kerja, kapan mau menikah?”

“Kamu sudah mapan, kapan menikah?”

“Kamu sudah jadi kepala unit blah blah blah, lalu, kapan mau menikah?”

Mungkin ini adalah semacam kasih sayang: mengingatkan. Gue ga tahu, mungkin memang begitu—apalagi yang mau dilakukan kalau sudah mapan? Hanya saja, tidak semua orang merasa nyaman dengan “kasih sayang” seperti itu.

Inilah yang, bisa dikatakan, menjadi anugrah bagi gue: memikirkan nikah. Sebagai manusia super sibuk: sibuk dengan kantor, sibuk ngajar, sibuk memupuk cinta pada pekerjaan, sibuk untuk menahan rasa benci terhadap pekerjaan, sibuk membenci diri sendiri, sibuk—kadang-kadang—dengan Tuhan, dan sibuk dengan yang-entah-apa lainnya, mencari pasangan adalah suatu kegiatan yang nyaris tidak terkerjakan, bahkan untuk memikirkannya, gue hampir-hampir ga pernah.

Pacar? Jangan bercanda!

Di saat-saat seperti inilah gue jadi sibuk atau membuat diri sibuk memikirkan tentang pasangan hidup: siapa orang yang cukup sial yang nantinya mau menjadi pasangan hidup gue?? Tidak hanya sampai di situ, dengan segenap kesombongan yang terus beranak-pinak di dasar hati, gue pun menyusun daftar kriteria orang yang nantinya akan jadi pasangan hidup—ya, saking optimisnya, entah sombong entah entahlah, gue masih yakin bakal ada orang seperti di daftar kriteria itu di dunia ini, padahal, yang biasa-biasa saja, belum tentu mau.

Setelah itu semua beres—sebuah lembaran utopia yang lebih utopis dari Republik-nya Plato—penyakit lama kembali menyergap: sesi tanya jawab dan renungan. Bagi orang bodoh seperti gue, hal ini adalah wajar, semua harus ditanyakan dulu dan harus ada jawabannya, lalu semua itu harus direnungkan, kalau tidak, gue bisa tersesat—gue memang bukan orang pintar yang tidak butuh banyak pertimbangan.

Pertanyaan pertama tentu saja: adakah orang yang seperti itu, seperti pada daftar kriteria yang sangat utopis itu? Segenap kesombongan yang telah tumbuh sebesar gunung itu, pada akhirnya hancur luluh lantak ditabrak realitas. Dan dengan optimisme yang masih tersisa, jawabannya tentu saja: hanya Tuhan yang tahu.  Tapi, yang berikutnya, jauh lebih mengganggu. Jika pada akhirnya gue memperoleh pasangan hidup, apakah kehidupan gue, nantinya, akan seperti mereka, mereka yang telah berpunya pasangan hidup? Gue ga habis pikir, bagaimana seseorang atau sepasang orang bisa hidup dengan cara melakukan yang itu-itu saja sampai, katakanlah, pensiun? Dapat dengan mudah dibayangkan: setelah menikah, kita, mau tidak mau, harus bekerja dari senin sampai jum’at atau di waktu lainnya sambil membesarkan anak, lalu berlibur entah ngapain di hari sabtu dan minggu. Semua berlangsung selama dua puluh sampai tiga puluh tahun. Luar biasa. Karena itu gue sangat menghormati orang tua gue: mereka benar-benar hebat, tiada banding tiada dua. Dan hal itu akan menimpa gue untuk sekian tahun ke depan. Kalau begitu, kapan gue bisa membaca novel-novel dan buku-buku klasik yang sudah bertumpuk-tumpuk, nonton film-film David Lynch dan film-film biasa lainnya yang tidak cukup dengan empat sampai lima kali tonton, menulis cerita-cerita dan novel-novel eksperimental yang selalu gue cita-citakan—yang nantinya entah diterima penerbit entah tidak, terserah..?

Lalu, apa yang harus gue perbuat jika telah mengetahui keadaan seperti itu? Jalani saja? Sebagai orang bodoh yang perlu banyak berpikir, apakah gue akan sanggup menyelesaikan itu semua?

Dan jalan lain pun menyeruduk masuk alam pikir: hidup sendiri. Tapi, keadaan ini tidak kalah mengenaskan. Gue tidak terlalu mempermasalahkan kesendirian, tapi sendiri??? Gue bisa melakukan banyak hal sesuka gue, sendiri, hingga akhirnya terbaring di atas kasur karena diabetes di usia menjelang enam puluhan. Ahhh… tidak ada gunanya hal ini dibahas…

Seperti biasa, semua berlalu tergerus oleh sungai waktu. Dan seperti biasa juga, gue masuk ke sungai yang sama dua kali, atau lebih!!! Tidak banyak yang berubah, banyak yang tidak berubah, banyak yang berubah tidak, tidak yang banyak berubah, yang berubah tidak banyak, yang banyak tidak berubah, entahlah… Sampai akhirnya, semua apologia ini, menemukan hakim yang mematahkan arangnya. Ketika gue menonton serial TV How I Met Your Mother season 7 episode 1: The Best Man, gue jadi mempertanyakan (dan menyadari) satu hal: apa yang sebenarnya lebih penting dalam kehidupan ini? Gue terlalu banyak membaca literatur eksistensial, tapi lupa dengan eksistensi diri sendiri, begitulah kira-kira.

Ted Mosby, seorang arsitek, menjadi orang termuda yang merancang gedung pencakar langit di belantara keangkuhan New York dan potret dirinya menjadi cover New York Magazine. Dia memperlihatkan majalah itu kepada beberapa orang temannya di pesta pernikahan seorang teman SMA-nya: kepada teman yang hanya menjadi montir di bengkel miliknya, ke temannya yang… Dia arsitek yang berhasil dan pencapaiannya jauh lebih baik daripada teman-temannya yang lain. Tapi, ketika temannya memperlihatkan bayinya, teman-temannya yang lain memalingkan wajahnya ke bayi tersebut. Oh, betapa cantik, betapa manis bayi tersebut. Berkeluarga, menjadi orang tua, entah apa lagi dalam kaitannya dengan hal itu: pencapaiannya jauh lebih indah daripada menancapkan sebuah pencakar langit di atas tanah New York. Ted merasakan kehampaan…

Jika dirinci, apakah keseharian kita setelah menikah akan sedemikian absurd (secara eksistensialisme)? Menjadi Sisyphus yang mengangkat batu ke puncak gunung hanya untuk melihat batu itu terjatuh menggelinding lagi ke bawah, dan kemudian mengangkut batu itu lagi ke puncak, demikian selamanya? Apakah Sisyphus gembira walau harus melakukan hal yang itu-itu saja selamanya? Lalu, bagaimana dengan senyum orang yang kita cintai? Bagaimana dengan lembutnya belaian bayi yang kita kasihi? Bagaimana jika di usia 12 tahun dia telah memahami kalkulus, seimajinatif Dalì di usia 17 tahun, atau tidak menjadi siap-siapa dan hidup sampai waktu yang telah ditentukanNya? Hari terus berganti, usia kosmologis bertambah, usia psikologis dibekukan, dan hal-hal baru bermunculan: angsa hitam, gajah albino, alien, Finnegans Wake terterjemahkan ke bahasa Indonesia, atau karya-karya sastra sui generis lainnya…

Ya, pandangan gue telah berubah—meskipun mungkin cuma sedikit. Sebelumnya, gue tidak terlalu mempedulikan yang namanya menikah (gue hanya menyatakan ke diri sendiri bahwa suatu saat entah kapan, gue akan menikah), tapi sekarang, gue yakin gue akan menikah. Dan satu hal tetap tidak berubah: belum saatnya! Tentu saja hal ini mengundang renungan baru: kenapa tidak sekarang? Lagi, setumpuk jawaban cliché menghampiri: sibuk. Sekarang, gue justru berpikir: ada baiknya menikah sekarang, ada baiknya juga menundanya, masalahnya adalah, manakah di antara keduanya yang nantinya akan gue sesali? Mungkin gue akan berkata, “Seharusnya gue menunda pernikahan beberapa waktu supaya semua menjadi lebih baik.” Atau, “Seharusnya gue menikah dari dulu, hikmahnya tidak terkira.”

Begitulah, dengan sisa-sisa semangat optimisme-Sartrean yang gue punya, gue telah nampang di hadapan diri sendiri yang sekarang berada di masa depan dan menampar wajahnya secara telak agar membuat keputusan di masa sekarang. Akhirnya, semua kembali ke pertanyaan pertama: siapa? Dan seorang temanpun membagi optimismenya dengan tidak terlalu menenggelamkan diri di dunia utopia:

Orang yang cocok buat lu adalah dia yang tahu apa itu The Valley of Imladris dan The Gorgoroth Plains atau tahu di mana bertahtanya tiga raja Alnitak, Alnilam, dan Mintaka ketika kalian bercengkrama di bawah langit malam, tanpa mencarinya di google tentunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s