Posted on

Buku-Buku yang tak Terbaca

Bulan ini, sampai entry ini di-posting, gue sudah membeli empat buku dan untuk itu seorang teman bertanya, “Lu suka baca buku, ya?” Dan gue jawab, “Nggak.” Dia tidak mempercayainya. Apakah jika seseorang sering membeli buku, maka dia suka membaca buku? Lebih tak-penting lagi, apakah ada sifat “suka membaca buku”? Jika ada yang seperti itu, menurut gue, buku yang dibacanya pastilah buku-buku yang luar biasa membosankan. Apakah buku-buku yang gue baca adalah buku-buku yang luar biasa membosankan? Tidak ada yang tahu. Tapi, bagaimana kau bisa bosan membaca dua novel terbaik yang pernah ada—A Portrait of the Artist as a Young Man-nya James Joyce (Jalasutra 2003) dan Burung-Burung Manyar-nya Y.B. Mangunwijaya (Djambatan 2010), dua diantara empat buku yang, akhirnya berakhir bahagia dan, gue beli?

Masa lalu lalu menyeruduk masuk alam pikir. Gue pernah suka dengan kegiatan membaca buku. Gue yang dulu polos, begitu ingin membaca Nadja-nya André Breton dan karya-karya Dostoyevsky, sekarang, setelah punya itu semua, menjadi muak dengan mereka. Yang ingin gue lakukan hanyalah membacanya dan merenungkannya, tapi tidak untuk menyukainya. Dan lalu? Membuat sebuah novel eksperimental yang lebih banyak didiskusikan daripada dibeli dan dibaca—seperti yang dikatakan The Guardian terhadap Ulysses-nya James Joyce. Dengan begitu, gue telah menafkahi secara tidak langsung para kritikus sastra dan penggiat kajian budaya karena dengan menginterpretasikan itulah mereka jadi punya pekerjaan, dan dengan begitu mereka bisa makan, serta tidak perlu takut akan kehilangan pekerjaan. Apakah gue berlebihan? Keterlaluan?

Sekarang, setelah sedikit dewasa, tidak ada lagi rasa suka, dan yang tersisa adalah kebutuhan: membaca buku adalah sebuah kebutuhan. Dengan kondisi keuangan yang terlalu lebih dari cukup, membeli buku bukanlah sesuatu yang sulit, apalagi hidup di kota dengan langit tanpa bintang ini. Tapi tololnya, libido untuk membeli buku terlalu tinggi, sedangkan keinginan untuk membacanya layaknya PNS paling rajin: gue terlalu malas untuk membacanya.

Dulu, sebuah pertanyaan tolol sempat menghinggapi kesadaran: haruskah kubeli buku yang, besar kemungkinan, tidak akan kubaca? Dengan kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan—begitulah mahasiswa—gue meyakinkan diri bahwa hal itu perlu—dan begitulah mahasiswa, terbakar hingga gosong karena idealismenya. Maka, puasa menjadi kegiatan yang tak terelakkan demi dua-tiga buku perbulan, dan memang, sebagiannya tetap tidak terbaca, tuntas. Begitu gue bertanya ke beberapa orang teman, mereka, umumnya, berkata bahwa buku-buku yang mungkin tidak akan terbaca tidak sebaiknya dibeli. Tapi… Uugh..!!

Jutaan detik berlalu hingga akhirnya apa yang gue lakukan mendapatkan pembenarannya dari Pak Taleb: Umberto Eco Anti-Library. Kita tidak tahu buku mana yang akan memicu terjadinya black swan dalam kehidupan ini, karena itu, buku-buku yang belum terbaca jauh lebih berharga daripada buku-buku yang sudah dibaca—bukan digunakan sebagai latar ketika diwawancarai oleh seorang-dua orang wartawan seperti yang dilakukan oleh para politikus atau peneliti di menara gading sana.

Meskipun begitu, keragu-raguan masih tetap menghinggapi: bagaimana mungkin gue menghabiskan Rp. 361.000,- untuk 800 halaman lebih yang nyaris sia-sia? Memang ada buku yang seperti itu, yang mana, manusia dengan bahasa ibunya adalah bahasa Inggris—bahasa yang digunakan pada novel—tetap tidak mengerti apa yang diceritakan oleh pengarang dalam novelnya yang ajaib itu.

Apapun itu, membaca adalah sebuah kebutuhan, terlepas dari rasa suka atau muak…

2 responses to “Buku-Buku yang tak Terbaca

  1. windra y

    dengan sadar saya suka ngikutin postingan di blog ini dan menyukai apa yang tertulis di dinding layarnya meskipun kadang belum bisa memaknai dengan baik… terutama bila tertulis sebuah judul buku..saya akn mencoba mencari tau buku apa itu… seperti memasuki dimensi yang berbeda….

  2. jacknhelena ⋅

    Terima kasih sudah membaca..
    Mengenai buku, menurut saya itu sesuatu yang subjektif. Banyak buku bagus menurut orang lain, belum tentu bagus menurut yg lainnya. Sekedar panduan, coba liat list dari modern library, le monde, etc…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s