Posted on

Catatan Jalan-Jalan

Realitas di sekitar kita memuakkan. Itulah kira-kira kenyataan yang gue dengar dari mata yang sudah agak rusak ini. Mungkin memang begitu. Orang-orang pergi jalan-jalan ke tempat yang, bisa dikatakan, indah, earth porn, dan melakukan ga-ngapa-ngapain di sana.

Senin sampai jum’at, dan dalam beberapa kasus—gue contohnya—harus sampai hari sabtu juga, para manusia melakukan ritual yang itu-itu saja: bekerja, bersenang-senang di kantor, bercanda—ahh betapa bahagia—dan terkadang membicarakan kejelekan orang lain. Dan mungkin para manusia sudah agak bosan dengan itu semua. Bagaimanapun, karir, yang merupakan salah satu penemuan terbesar dan terpenting abad ini, ternyata mempunyai sejumlah persoalan eksistensial yang cukup parah dan mungkin tak akan terobati untuk, katakanlah, dua ratus tahun ke depan.

Tapi kita tidak bisa terlepas dari itu semua. Siapa yang tidak butuh uang? Dan karir menyediakannya. Siapa yang tidak butuh kebahagiaan? Dan itu pun tersedia. Bukan begitu? Lalu, apa permasalahannya? Ternyata tidak sesederhana itu. Kalau manusia suka bekerja, apakah mereka perlu jalan-jalan? Apakah perlu pergi ke tempat yang orang lain mungkin tidak bisa? Gue rasa, itu perlu, karena kalau tidak begitu, apa gunanya jalan-jalan? Bukankah lebih baik membeli buku dan membacanya? Jika kita memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, bukankah itu.. apa ya..??

Tidak perlu ada kartun atau anime di minggu pagi, renungan-renungan spiritual tentang betapa sempurnanya hidup dan kita perlu mensyukurinya, atau berdiam diri saja di rumah bersama keluarga sambil membaca secara dramatis Waiting for Godot-nya Beckett. Bersenang-senang dan bahagia bukan di sini tempatnya, tidak di tempat bernama “rumah”, tapi di tempat lain yang agak terasing…

Jalan-jalan itu perlu, tapi membaca, merenung, menonton kartun, masukkan saja ke dalam catatan “tugas-tugas yang tidak perlu dikerjakan”. Jangan lupa di-posting di social media. Realitas memang memuakkan. Dan jalan-jalan itu perlu, tapi tidak dengan semangat seperti yang diutarakan oleh Jalaluddin Rumi.

Dan gue pun jalan-jalan, naik TJ koridor 12: bus gandeng yang dingin dengan rute yang cukup banyak belokan, melaju agak kencang, sampai 60 km/jam sehingga gaya sentrifugalnya ketika di belokan cukup terasa—betapa senang, serta melewati gedung-gedung tinggi yang indah, ya, indah!! Dan yang lebih bagus lagi, tempat ini cukup sepi, tidak terlalu banyak makhluk bernama manusia.

Ya, kita memang berasal dari keterasingan dan, katanya, kita akan kembali ke keterasingan. Seandainya ada fjörd di sini…

2 responses to “Catatan Jalan-Jalan

  1. Mahiazara

    Assalamualaikum brother, sedang merasa asing?
    Berdoalah, Allah senantiasa menyertaimu. Amin.🙂

    • jacknhelena ⋅

      ‘Alaikumsalam. Saya benar-benar merasa senang dengan pertanyaan, “sedang merasa asing?” yang selalu membuat saya merasa lebih baik dari apa yang saya rasakan. Bukankah kita memang selalu terasing? Diasingkan oleh iklan, diasingkan oleh apa yg terjadi di sekeliling kita, bahkan diasingkan oleh diri sendiri. Tapi, bukankah tidak ada diri yang otentik? Seseorang yg locus autentisitas berada di dalam diri? Saya senang dg apa yg dikatakan Sartre bahwa “”diri” adalah proyek seumur hidup” karena pada hakikatnya kita adalah “menjadi”.

      Mungkin suatu waktu saya pernah/akan memenjarakan diri dalam beberapa kata-kata, bahwa aku adalah “hebat”, “inspiratif”, “tidak mengeluh”, etc, tapi apakah sang aku akan selalu begitu?
      🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s