Posted on

Seribu Ruang

kulihat langit merangkai mendung layaknya si waras merangkai murung
tidak ada yang baru di sina, semua orang suci dengan dosa-dosa yang berbeda
anjing-anjing meraung-raung di keheningan malam
aku peduli dan menuliskannya
begitulah orang-orang yang kurang kerjaan dan
sebagian di antara mereka bergelar seniman
mereka pergi ke seorang opthalmolog karena tenggorokannya sakit
sehingga tidak bisa mencium bau enak yang sinis

seribu celah membuka tapi satu ingin kudengar
ujian tidaklah mengapa, tapi harus diganjar
jika tidak, kasihan anak-anak tolol itu memupuk harapan sekian tahun hanya
untuk melihatnya tergapai begitu saja, membosankan, tapi
semua orang senang, siapa yang tidak
kau pasti sudah gila dengan kata-kata yang terangkai waras

kau perlu tahu apa-apa yang nyaris tidak ada gunanya bagimu supaya kau
bisa menikmati apa-apa yang telah kau perjuangkan
kau tahu itu, ya kau tidak perlu tahu itu

di Venice orang-orang duduk-duduk di pinggir kali, di pinggir kali
di tepi laut, di tepi laut, anjing-anjing berkeliaran, anjing
laut, kucing-kucing bercumbu, kucing laut, matahari naik dari
laut, menanjak susah payah ke pusat siang, lalu menukik hingga ditelan
mulut-
mulut gunung yang menganga
tidak akan terlihat André Breton, di antara kabut pekat bernama manusia
tapi aku merindukan saat-saat semua begitu pudar di telan senja
apakah di Venice sana orang-
orang juga
merindu matahari untuk kembali setelah bersimbah darah
di tepian horizon ditelan gunung ditelan gerhana

keingintahuan yang pendek menjelang usia dewasa ini meluluhlantakkan
idealisme, tidak seperti mereka yang ujian, mencari jalan untuk lolos dari ketololan
mencari jalan menuju keajaiban, tapi bertemu dengan suatu kepintaran
lain yang tidak pada tempatnya

seribu pintu ternganga tapi satu yang ingin kubuka
neraka bagi setan-setan
dan iblis-iblis
yang masuk ke alam pikir menolak ke sana, bagaimana mungkin mereka masuk, neraka bagi mereka
dari dunia, pengalaman masuk ke jiwa, bersemayam, bersenandung membentuk dunia
yang tiada indah dikata, namun ternikmati jua: aku
aku bertanya: “Kenapa hanya Newton yang bertanya “Kenapa?” sementara yang lain mencela?” dari sebuah apel, datanglah dunia, baru bagi semesta manusia, tapi sudah lama ada
dan apa yang terjadi di sini, kita dijajah dan berpecah belah, bukan begitu,
aku tak dapat lebih setuju lagi, tapi mengapa

seribu setan tertawa, sakit perut melihat mangsa
“Inilah surga bagi dosa dan dosa” mereka berkata

seribu ruang tertutup tapi satu ingin kubuka, aku bertanya, “Apa yang ada
dipikiran orang gila?” Sekarang aku menyadari kenapa
aku begitu sering menggunakan kata-kata “gila”
tidak ada yang lebih baik, fuck? bukanlah apa-apa
lalu mereka menawarkan obat berupa racun
hingga menghimpit saraf-saraf kewarasan
hingga menjadi gila
aku seratus persen, seribu permil waras adanya, aku bertanya, aku bertanya, dan lagi aku bertanya, aku membaca, aku membaca, dan lagi aku
membaca, semua menjadi semakin tak jelas, semua menjadi semakin
buram, aku masuk ke dalam jebakannya, obat itu menjadi benar-benar racun, dan racun itu mengobati segala sakit ini, yang terasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s