Posted on

Random Talks 2

Menulis di blog itu me… entah kenapa aku merasa absurd. Apakah aku harus menulis dan mem-publish-nya di sini? Ketololan semacam ini sering kali berkelindan di benakku yang tidak kuat berpikir ini. Mungkin ada beribu alasan untuk itu dan aku tidak menemukan satupun yang adequate.

Menulis itu penting, hal itu akan melegakan pikiranmu, bagai air di dalam teko yang sudah hampir penuh dan kau harus menuangkan sebagian isinya ke tempat lain supaya teko itu tidak tumpah, begitulah menulis, dan begitulah kira-kira  kata seorang teman—sesuatu yang kulakukan tanpa sepenuhnya kusadari. Dan kusadari juga, itulah yang selama ini kulakukan: untuk—nyaris—membuang sampah-sampah yang ada di kepala. Serta, untuk membuat keadaan sedikit lebih kacau, tulisan-tulisan (ketikan-ketikan) itu ku-publish di sini. Karena itu, aku tidak memerlukan komitmen untuk memenuhi tempat ini dengan tulisan—seperti orang kebanyakan. Aku benar-benar normal dan waras sepenuhnya. Sudah saatnya menulis kembali.

Untuk sementara, kehidupan berjalan lancar dan luar biasa: normal dan waras, hingga akhirnya beragam pemikiran kembali berkecamuk. Aku harus menulis lagi entah apapun alasan untuk menundanya. Satu hal yang paling kupahami tentang kehidupan adalah bahwa kehidupan itu tidak bisa dipahami. Kehidupan itu bukan untuk dipahami, tapi untuk dijalani dan dinikmati, begitu kira-kira kata seorang eksistensialis dari Prancis. Kau masih ingat ketika kau masih kecil? Kau ingin jadi dokter atau pilot atau guru atau, yang agak sedikit konyol, kau ingin menjadi presiden. Kenapa aku pernah menjadi begitu tolol dulunya? Aku bertanya-tanya dan sayangnya keadaan sekarang tidak jauh berubah: aku tetap tolol—mungkin lebih—dan tidak ada satupun diantara keinginan itu yang tercapai. Sungguh menggelikan jika semua itu dipikirkan sekarang. Bagaimana tidak, lihatlah ke cermin!

Aku merasa benar-benar tolol dan kepalaku tidak mampu lagi menahannya. Maafkan aku, aku harus meninggalkan jejak ketololan ini dalam bentuk tulisan (dan sialnya atau lebih hebatnya lagi, ku-publish di sini), karena jika tidak, aku takut otakku akan terus dikonsumsi olehnya hingga tidak punya otak lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s